Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Demo Tolak Omnibus Law, IHSG Lanjutkan Reli

IHSG menguat 0,70 persen atau 34,81 poin ke level 5.039,142 pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (8/10/2020).
Karyawan beraktivitas di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (6/10/2020). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawan beraktivitas di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (6/10/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com,JAKARTA— Indeks harga saham gabungan (IHSG)  melanjutkan tren penguatan dengan parkir di zona hijau dalam empat hari berturut-turut di tengah kabar demonstrasi penolakan terhadap Undang-undang Cipta Kerja.

IHSG melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Kamis (8/10/2020). Indeks tancap gas sepanjang sesi perdagangan hingga menembus level tertinggi atau resistance 5.037,273.

IHSG mampu bertahan di zona hijau dengan menguat 0,70 persen atau 34,81 poin ke level 5.039,142 sampai dengan penutupan perdagangan Kamis (8/10/2020). Sebanyak 243 saham menguat, 184 terkoreksi, dan 280 stagnan pada sesi perdagangan.

Data Bloomberg menunjukkan IHSG telah menguat dalam empat sesi pekan kedua Oktober 2020. Kenaikan sepanjang periode itu yakni 0,65 persen, 0,82 persen, 0,10 persen, dan 0,70 persen.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan ada beberapa faktor pendongkrak laju IHSG. Salah satunya dampak dari pengesahan Rancangan Undang Undang Cipta Kerja menjadi Undang Undang (UU) awal pekan ini.

“Euforia pengesahan RUU omnibus law menjadi UU masih kuat,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (8/10/2020).

Di sisi lain, dilaporkan bahwa demo penolakan omnibus law sejak disahkan menjadi UU pada awal pekan ini masih terus berlanjut. Kericuhan terjadi di sejumlah titik bahkan hingga beberapa ratus meter dari Istana Negara.

Selain omnibus law, Nafan mengatakan kontraksi terhadap kinerja penjualan ritel di tanah air mereda. Pasar menurutnya juga mengapresiasi kinerja penjualan ritel di Tanah Air.

Market mengapresiasi pernyataan dari Powell [Gubernur The Federal Reserve] mengenai perlunya stimulus moneter dan fiskal yang lebih agresif,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper