Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

​Penjualan Mulai Pulih, Cahayaputra Keramik (CAKK) Andalkan Pasar Domestik

Penjualan produk keramik disebut mulai menggeliat dan diharapkan bisa bertahan hingga akhir tahun. Cahayaputra Asa Keramik (CAKK) optimistis penjualan bisa lebih tinggi pada tahun depan seiring dengan pemulihan sektor properti.
Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk. Theo Lekatompessy (kiri) bersama Direktur Utama Johan Silitonga memberikan penjelasan saat RUPS di Jakarta, Selasa (23/4/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam
Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk. Theo Lekatompessy (kiri) bersama Direktur Utama Johan Silitonga memberikan penjelasan saat RUPS di Jakarta, Selasa (23/4/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten keramik PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk. (CAKK) mengakui tren penjualan keramik pada kuartal III/2020 mulai pulih. Perseroan berharap tren tersebut bisa bertahan hingga akhir tahun.

Direktur Cahayaputra Asa Keramik Juli Berliana Posman mengatakan penjualan keramik masih menggeliat di wilayah Jawa. Oleh karena itu, produsen keramik merek Kaisar itu optimistis penjualan bakal lebih tinggi pada tahun depan seiring dengan pemulihan di sektor properti.

Juli menambahkan, sejauh ini perseroan masih mengandalkan pasar domestik dan belum merealisasikan penjualan ke luar negeri. Secara keseluruhan, pendapatan sepanjang tahun ini diprediksi akan turun kendati penjualan pulih di kuartal III/2020.

“Untuk kuartal ketiga sudah terlihat ada pertumbuhan dan diharapkan akan berlanjut terus sampai kuartal keempat. Proyeksi penurunan pendapatan masih berkisar di angka tersebut (19,48 persen secara yoy),” ungkap Juli kepada Bisnis, Selasa (29/9/2020).

Di sisi lain, emiten bersandi saham CAKK itu telah membelanjakan dana investasi sebesar Rp30 miliar atau 63 persen dari total belanja modal tahun ini. Jumlah tersebut tidak termasuk pembelian mesin baru yang mana proses importasi terhambat pandemi Covid-19.

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Juli juga menerangkan bahwa penurunan gas industri menjadi US$ 6 per MMBTU yang ditetapkan pemerintah pada Juli lalu membuat beban produksi perseroan berkurang sekitar 5 persen secara keseluruhan.

Adapun, perseroan juga tak lantas mengambil langkah melakukan penyesuaian harga. Sebagai gantinya, perseroan mengaplikasikan nilai tambah dari produknya seperti mengganti bahan baku keramik seperti glaze dengan kualitas yang lebih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper