Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tower Bersama (TBIG) Lebih Fokus di Pertumbuhan Organik

Sepanjang semester I/2020 TBIG mampu membukukan penyewaan kotor sebanyak 2.517 tenant, terdiri atas 370 sites telekomunikasi dan 2.147 kolokasi. Sehingga secara akumulasi perseroan tercatat memiliki 31.039 penyewaan dan 15.893 site telekomunikasi. 
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 28 September 2020  |  17:42 WIB
Menara milik PT Tower Bersama Infrastructure Tbk.
Menara milik PT Tower Bersama Infrastructure Tbk.

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten menara telekomunikasi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) optimistis bisnis perseroan tetap stabil di masa depan. Adapun, perseroan mengaku lebih fokus pada pertumbuhan organik dibandingkan akuisisi.

CEO Tower Bersama Infrastructure Hardy Liong mengatakan industri tower termasuk industri yang defensif di era pandemi karena pendapatan mereka mengandalkan pembayaran dari kontrak jangka panjang atas sewa menara telekomunikasi.

“Kontraknya itu 10 tahun dan dari kontrak eksisting kita tidak mengalami masalah, pembayaran dari operator telko juga tepat waktu. Ditambah, kontrak baru yang kita dapatkan selama pandemi ternyata cukup baik,” tuturnya dalam sesi paparan publik via daring, Senin (28/9/2020). 

Dia menuturkan, sepanjang semester I/2020 TBIG mampu membukukan penyewaan kotor sebanyak 2.517 tenant, terdiri atas 370 sites telekomunikasi dan 2.147 kolokasi. Sehingga secara akumulasi perseroan tercatat memiliki 31.039 penyewaan dan 15.893 site telekomunikasi. 

Realisasi tersebut hampir mendekati target yang dipatok perseroan untuk 2020 yakni 3.000 tenant baru. Adapun, dengan penyewa sejumlah itu rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan telah mencapai target yakni menjadi 1,96, naik dari 1,85 di akhir tahun 2019. 

CFO Tower Bersama Helmy Yusman Santoso menambahkan, untuk menjaga pertumbuhan bisnis ke depan perseroan akan lebih fokus pada pertumbuhan organic meski tak menutup peluang untuk akuisisi menara baik dari perusahaan yang lebih kecil maupun dari operator telekomunikasi. 

Helmy mengatakan ada sejumlah hal yang menjadi pertimbangan ketika perseroan akan melalukan akuisisi, mulai dari lokasi aset, prospek ke depan, dan valuasi atas aset yang akan diakuisisi. 

“Kita sudah punya 15.000 site di seluruh Indonesia, kalau kita ingin akuisisi sesuatu kita melihat apakah di tempat target akuisisi itu kita sudah punya tower banyak apa belum dan bagaimana prospeknya untuk meraih tenant baru,” jelasnya. 

Dia menegaskan akuisisi memang menjadi salah stau strategi pertumbuhan perseroan tapi jika valuasi dan nilai strategis dari aksi korporasi tersebut dinilai kurang pas, perseroan tidak akan memaksakan hal tersebut.

“Strategi utama kita tetap organic growth. [Realisasi sepanjang semester I/2020] mendapat 2.517 tenant itu pertumbuhan tenant yang terbaik sepanjang sejarah pertumbuhan organiknya Tower Bersama,” tutur Helmy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten tower bersama infrastructure
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top