Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Asing Deras Jual, Akankah Rebound IHSG Bertahan Lama?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya bisa keluar dari tekanan setelah menguat pada perdagangan terakhir pekan ini (25/9/2020) berkat berbagai balutan sentimen positif. Dapatkah hal ini berlanjut hingga akhir tahun?
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 26 September 2020  |  00:14 WIB
REKOMENDASI SAHAM : IHSG Bakal Rebound Papan elektronik menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan. JIBI - Dwi Prasetya
REKOMENDASI SAHAM : IHSG Bakal Rebound Papan elektronik menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan. JIBI - Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya bisa keluar dari tekanan setelah menguat pada perdagangan terakhir pekan ini berkat berbagai balutan sentimen positif. Dapatkah hal ini berlanjut hingga akhir tahun?

Pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (25/9/2020), IHSG menguat 2,13 persen ke 4.954,79. Penguatan ini merupakan yang pertama kalinya dalam sepekan setelah IHSG harus terjun sejak perdagangan perdana pekan ini.

Meski masih di bawah level psikologis 5.000, penguatan IHSG hari ini memberikan harapan penguatan yang berkelanjutan menuju akhir tahun. Namun, analis masih mewanti-wanti IHSG dapat bergerak volatil ke depan. Apalagi saat indeks berada di zona hijau, investor asing terus melepas kepemilikan dan keluar dari pasar modal Tanah Air.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan pergerakan IHSG masih akan dipengaruhi beberapa sentimen dari data pertumbuhan ekonomi ke depan. Menurutnya, jika koreksi ekonomi pada kuartal III/2020 lebih dalam dari perkiraan IHSG dapat kembali terpukul.

“Jika pertumbuhan ekonomi minus 2 persen atau lebih, IHSG akan terkoreksi lagi, tapi kalau di bawah itu akan lebih stabil. Pasar saham akan bergerak atas ekspektasi, dan sekarang ekspektasi memburuk setelah PSBB, Covid-19 juga meningkat secara global, dan beberapa negara berencana lockdown lagi,” katanya kepada Bisnis, Jumat (25/9/2020).

Meski masih dihantui potensi dari sentimen-sentimen tersebut, dia mengatakan bahwa hari ini IHSG dapat bergerak positif lantaran kabar soal vaksin Sinovac Biotech yang mendapatkan lampu hijau dari World Health Organizations.

Tapi, menurutnya, euforia semacam ini tetap perlu ditanggapi dengan bijaksana. Pasalnya, lampu hijau bukan berarti vaksin dipastikan dapat terdistribusi dalam waktu cepat. Selain itu, menurutnya pasar juga perlu tetap skeptis atas penilaian WHO yang beberapa kali malah keliru.

“Minimal, berita positif mampu membawa indeks naik dulu, meski kita tetap berada di tengah kegalauan data ekonomi akan turun, baik secara global maupun domestik,” katanya.

Dia mengatakan bahwa pelaku pasar juga tetap harus berhati-hati dalam mencermati potensi kenaikan harga saham jelang akhir tahun. Secara historis periode November—Desember memang biasanya diiringi dengan kenaikan indeks, tapi tahun pandemi bisa saja menghadirkan narasi berbeda.

Pasalnya, dia mengatakan Indonesia akan memasuki musim hujan, sementara belahan dunia barat akan memasuki musim dingin yang dikhawatirkan dapat meningkatkan penyebaran Covid-19. Menurutnya, hal-hal ini bisa menjadi sentimen negatif yang merusak mimpi IHSG di zona hijau pada akhir tahun.

“Tahun ini memang bukan tahun yang ceria pokoknya, bagi investor yang mengharapkan reli IHSG akhir tahun, dengan melihat situasi saat ini, lebih baik berfokus untuk melakukan beli dan tahan untuk jangkan panjang, 1—2 tahun ke depan,” katanya.

Sementara itu, Analis Senior RHB Sekuritas Michael W. Setioadi mengatakan kabar tentang vaksin Sinovac Biotech memang menjadi salah satu pendorong peningkatan IHSG. Namun, dia menilai faktor lain seperti rencana percepatan stimulus dari The Fed serta alasan teknikal turut menjadi bahan bakar IHSG hari ini.

“Pertama ada stimulus lagi dari the fed yang dipercepat,maka ini mendorong asian market. Yang kedua, kita secara teknikal juga sudah turun tiga hari berturut-turut, dan faktor terpenting juga ada janji-janji dari cerita tentang vaksin Sinovac,” katanya kepada Bisnis, Jumat (25/9/2020).

Dia mengatakan investor juga sudah cenderung priced-in terhadap potensi buruknya rilis data ekonomi domestik. Selain itu, menurutnya investor sudah memperhitungkan dampak dari pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar [PSBB] yang kembali diperpanjang Pemprov DKI Jakarta.

Michael menilai dia masih optimistis IHSG memiliki peluang besar untuk bangkit jelang akhir tahun ini. Pasalnya, kinerja indeks sepanjang tahun berjalan cukup tertekan, sehingga momentum window dressing pada akhir tahun diperkirakan akan membawa dampak positif.

Di sisi lain, dia meyakini kepastian pengadaan vaksin akan semakin terlihat pada akhir tahun dan hal ini akan menjadi pendorong pasar modal domestik. Dengan potensi tersebut, dia mempertahankan target IHSG 5.300 pada akhir 2020.

“Kami expect akan ada sedikit recovery di kuartal IV, memang mungkin saja ada delay, tapi ada sentimen positif di vaksin, dan dengan melihat ekspektasi pemulihan pada 2021 target kami IHSG 5.300 untuk akhir tahun, kami menggunakan forward rolling PER untuk estimasi ini,” katanya.

Dia mengatakan IHSG memiliki prospek lebih cerah pada 2021. Dengan perkiraan distribusi vaksin dimulai secara terbatas saja pada tahun depan, dia meyakini hal ini akan membawa IHSG melaju kencang, bahkan tanpa melihat perubahaan riil pada fundamental emiten pada kuartal I/2021.

“Jika didistribusikan ke klaster secara tepat, seharusnya sudah sangat menurunkan probabilitas penyebaran virus, dan dengan begitu seharusnya pada 2021 aktivitas ekonomi sudah berjalan, tidak ada PSBB. Dengan sentimen itu pun, market sudah bisa relly, tanpa lihat fundamental results-nya,” tuturnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG rekomendasi saham Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Anggara Pernando
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top