Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Faktor yang Bikin Sukuk Ritel SR013 Diburu Investor hingga Rp14 Triliun

Berdasarkan data yang dilansir dari salah satu mitra distribusi daring, per hari Senin (21/9/2020) pagi atau hari ke 25 penawaran, penjualan SR013 telah mencapai Rp14,07 triliun.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 21 September 2020  |  10:22 WIB
Ilustrasi Sukuk Ritel SR13 - Instagram @djpprkemenkau
Ilustrasi Sukuk Ritel SR13 - Instagram @djpprkemenkau

Bisnis.com, JAKARTA—Risiko yang hampil nol dan imbal hasil yang kompetitif dibandingkan instrumen investasi lain disebut menjadi daya tarik sukuk ritel negara di tengah kondisi pandemi.

Berdasarkan data yang dilansir dari salah satu mitra distribusi daring, per hari Senin (21/9/2020) pagi atau hari ke 25 penawaran, penjualan SR013 telah mencapai Rp14,07 triliun.

Jumlah tersebut telah melewati target kuota sebelumnya yakni Rp12 triliun. Pun, realisasi itu juga telah melampaui realisasi penjualan Sukuk Negara Ritel seri sebelumnya yaitu SR012 yang mencapai Rp12,14 triliun.

Sementara itu sisa penjualan tercantum sebesar Rp1,60 triliun, yang berarti target kuota pemesanan saat ini sekitar Rp15 triliun, sedangkan masa penawaran masih tersisa tiga hari lagi atau sampai 23 September 2020 pukul 10.00 WIB.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan tingginya animo investor terhadap instrumen ini karena tingkat risiko nihil. Sebab, sukuk ritel dijamin oleh negara sehingga risiko gagal bayarnya hampir nol.

“Terbukti sukuk ritel ini nyaman bagi investor, risikonya rendah sekali. Walaupun memang di pasar sekunder tidak selikuid yang konvensional. Tapi bagi investor, apalagi yang pemula, ini instrumen yang aman dan gampang,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Minggu (20/9/2020)

Dia menyebut ini menjadi sangat menarik bagi investor pemula, apalagi saat ini penjualan daring gencar dilakukan. Menurutnya, penjualan melalui mitra distribusi daring membuat pamor surat berharga ritel kian naik.

Selain itu, jika dibandingkan dengan instrumen serupa saat ini, imbal hasil yang ditawarkan SR013 terbilang menarik yakni 6,05 persen, sedangkan yield SBN 3 tahun ada di level 5,07 persen dan SBN 5 tahun di 5,62 persen.

Sebagai perbandingan lainnya, kata Ramdhan, adalah deposito bank. Berdasarkan data Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU) Bank Indonesia per 18 Agustus 2020, rerata tingkat suku bunga deposito perbankan adalah 5,38 persen.

Menurutnya, di tengah tren suku bunga rendah di dunia masih akan berlanjut, termasuk di Indonesia. Ramdhan menyebut Bank Indonesia masih sangat berpotensi kembali memangkas suku bunga acuan.

“Tren suku bunga akan terus rendah ke depan, paling nggak dalam waktu satu semester ini. Apalagi di tengah pandemi. Kan akhirnya instrumen ini jadi menarik walaupun cuma 6,05 persen,” imbuh dia.

Dia memproyeksikan realisasi penjualan SR013 ini dapat kembali menembus kuota pemesanan yang kini ada di kisaran Rp15 triliun. Salah satu yang menurutnya akan menjadi pendorong adalah SBR04 yang jatuh tempo 20 September 2020.

Ramdhan menilai karakter SBR04 dan SR013 cenderung mirip, sehingga investor yang telah menerima pencairan dana SBR04 tersebut kemungkinan besar akan kembali masuk melalui SR013.

“Jatuh tempo 20 September, mungkin besoknya mereka sudah terima uangnya. Pemesanan [SR013] sampai tanggal 23, jadi mungkin di 1-2 hari sebelum itu sudah bisa masuk ke sana,” tutur Ramdhan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi sukuk sukuk ritel
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top