Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bos HM Sampoerna (HMSP) Beberkan Strategi Jaga Daya Saing Bisnis

HMSP berpendapatan enaikan tarif cukai rata-rata 24 persen dan harga jual eceran sebesar 46 persen yang berlaku pada 2020, serta pandemi Covid-19 menjadi dua faktor utama yang memberikan dampak signifikan pada kinerja industri rokok.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 18 September 2020  |  13:05 WIB
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA — PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. menyesuaikan strategi perusahaan untuk mempertahankan daya saing bisnis di tengah perubahan tren pada 2020.

Presiden Direktur Hanjaya Mandala Sampoerna Mindaugas Trumpaitis menjelaskan bahwa perseroan menyadari pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang berdampak langsung baik kepada publik maupun dunia usaha Indonesia.

“Untuk industri rokok, kenaikan tarif cukai rata-rata 24 persen dan harga jual eceran sebesar 46 persen, yang berlaku pada 2020, serta pandemi Covid-19 menjadi dua faktor utama yang memberikan dampak signifikan pada kinerja industri ini yang telah menyebabkan penurunan volume penjualan hingga dua digit,” ujarnya saat paparan publik secara daring, Jumat (18/9/2020).

Mindaugas menyebut emiten berkode saham HMSP itu menghadapi tantangan selama masa puncak pandemi khususnya pada kuartal II/2020. Berbagai tantangan pada April 2020—Juni 2020 menyebabkan koreksi terhadap kinerja perseroan.

“Sepanjang semester I/2020, total pangsa pasar perusahaan mencapai 29,3 persen atau turun 3,1 persen sementara volume pengiriman 38,5 miliar batang mencerminkan penurunan sebesar 18,2 persen,” paparnya.

Di tengah kondisi tersebut, dia mengatakan perseroan menyesuaikan strategi perusahaan. Hal itu untuk mempertahankan daya saing bisnis dan menjawab tren yang berubah.

Mindaugas mencontohkan peluncuran produk sigaret kretek mesin (SKM) tar tinggi. Strategi itu untuk merespons pergeseran permintaan produk ke tar yang lebih tinggi.

Dia mengatakan bahwa akhir dari pandemi Covid-19 yang berpengaruh kepada perlambatan ekonomi masih tidak menentu. Kendati demikian, industri hasil tembakau (IHT) masih harus terus bergerak untuk mendorong aktivitas sosial ekonomi dan mempertahankan kontribusi kepada perekonomian nasional.

“Sampoerna juga tetap mewaspadai berbagai dampak lanjutan dari pandemi yang terjadi secara global dengan terus beradaptasi dengan perkembangan situasi serta menciptakan terobosan dan inovasi di dalam perjalanan bisnisnya untuk mengokohkan kepemimpinan perusahaan,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri rokok hm sampoerna emiten rokok
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top