Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kebijakan The Fed Bisa Bikin Dolar Makin Babak Belur

Sejak The Federal Reserve memberikan sinyal terkait kebijakan moneter, dolar AS terus melemah dan menuju tren penurunan empat bulan beruntun. Sepanjang tahun berjalan 2020 indeks dolar AS telah bergerak melemah 4,26 persen.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 31 Agustus 2020  |  16:13 WIB
Seorang pria menghitung lembaran uang euro dan dolar AS. - Bloomberg/Kerem Uzel
Seorang pria menghitung lembaran uang euro dan dolar AS. - Bloomberg/Kerem Uzel

Bisnis.com, JAKARTA - Tren pelemahan dolar Amerika Serikat tampaknya masih akan berlanjut dalam beberapa perdagangan ke depan seiring dengan kebijakan dovish dari The Federal Reserve.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS menuju penurunan kinerja bulanan keempat berturut-turut jika pada akhir perdagangan hari ini, Senin (31/8/2020), greenback masih terkoreksi.

Adapun, jika greenback parkir di zona merah,  dolar AS mengalami rekor penurunan kinerja bulanan terpanjang sejak musim panas 2017.

Hingga pukul 14.48 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah tipis 0,01 persen ke level 92,398. Sepanjang Agustus, indeks dolar AS telah bergerak melemah 1,11 persen.

Sementara itu, sepanjang tahun berjalan 2020 indeks dolar AS telah bergerak melemah 4,26 persen.

Padahal, pada medio Maret 2020 dolar AS sempat diburu oleh investor hingga menyentuh level rekor tertinggi 102,992 karena dianggap aset safe haven ketika seluruh aset investasi lainnya anjlok didukung sentimen pandemi Covid-19.

Tim Analis Monex Investindo Futures dalam laporannya mengatakan bahwa penurunan terjadi karena investor terus membuang dolar AS setelah pidato Ketua The Fed Jerome Powell di simposium Jackson Hole dan sikap baru dari bank sentral AS itu.

The Fed akan berupaya untuk mencapai rata-rata inflasi AS sebesar 2 persen, sehingga menguatkan sinyal bahwa Bank Sentral AS itu akan membiarkan suku bunga di tingkat rendah untuk jangka waktu yang lebih lama.

Pelemahan itu pun akan dijadikan momentum bagi mata uang dan aset investasi lainnya untuk memperbaiki kinerjanya.

“GBP/USD berpeluang melanjutkan kenaikan menguji level resisten di 1,3390 hingga 1,3420 dolar AS per pound sterling, dan EUR/USD berpotensi melanjutkan kenaikan menguji level 1,1940 hingga 1,1980 dolar AS per euro,” tulis Monex Investindo Futures seperti dikutip dari risetnya, Senin (31/8/2020).

Sementara itu, yen berpotensi melanjutkan penguatan terhadap dolar AS menguji level 105 - 104,80 yen per dolar AS.

Di sisi lain, minyak dan emas pun turut memanfaatkan momentum.  Harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan menguji level resisten US$1.980 - US$1.985 per troy ounce, sedangkan minyak menguji level resisten US$43,40 hingga US$44 per barel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as Kebijakan The Fed
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top