Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asing Lepas Saham, Investor Domestik Jadi Motor Peggerak IHSG

Jumlah investor ritel di pasar modal yang saat ini menembus 3 juta single investor identification (SID) telah mendongkrak rata-rata frekuensi transaksi, dengan 93.000 hingga 112.000 investor aktif setiap hari.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 17 Agustus 2020  |  16:42 WIB
Pengunjung melihat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/8/2020). Pada penutupan perdagangan awal pekan, IHSG ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung melihat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/8/2020). Pada penutupan perdagangan awal pekan, IHSG ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Kenaikan jumlah investor ritel domestik di pasar modal Tanah Air telah menjadi penahan pelemahan IHSG ketika investor asing mencatatkan aksi jual bersih atau net sell

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi mengatakan jumlah investor ritel di pasar modal yang saat ini menembus 3 juta single investor identification (SID) telah mendongkrak rata-rata frekuensi transaksi harian bursa.

Dia menunjukkan pada 2019, investor ritel domestik terpantau aktif bertransaksi sebanyak 50.000—60.000 investor per hari. Namun, pada tahun ini terjadi kenaikan menjadi 93.000 investor per hari bahkan sempat menyentuh 112.000 investor per hari.

“Rata-rata frekuensi transaksi harian di BEI juga mengalami kenaikan, padahal sebelum 2017 itu selalu di bawah Thailand,” ujar Inarno.

Berdasarkan data World Federation of Exchange dan BEI, rata-rata frekuensi transaksi harian BEI pada Mei 2020 sebanyak 479.000 kali atau lebih tinggi dibandingkan Thailand sebanyak 404.000 kali. Adapun pada 2017, frekuensi transaksi harian bursa di Thailand sebesar 348.000 kali sementara Indonesia 313.000 kali.

Direktur Utama Danareksa Sekuritas Friderica Widyasari Dewi mengamini bahwa peningkatan frekuensi transaksi juga terjadi di lini bisnis broker anak usaha PT Danareksa (Persero) tersebut sejak pandemi Covid-19 merebak.

“Jadi ternyata dengan adanya work from home, ini mendorong orang-orang untuk kemudian meningkatkan [frekuensi] trading,” tutur Kiki.

Adapun, kekuatan investor ritel domestik juga disebutnya merupakan bantalan penahan depresiasi IHSG pada masa pandemi ketika investor asing ramai-ramai keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets).

Hingga 14 Agustus 2020 ytd, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp23,42 triliun. Pada saat bersamaan, IHSG melemah 16,70 persen ke level 5.247. 

Namun demikian, posisi indeks saat ini telah menguat 33,27 persen sejak menyentuh level terendah tahun ini pada 3.937.

“Pada saat krisis, investor lokal ini akan menjadi cushion dari market kita, dan ini terbukti. Dalam masa krisis ini, rata-rata nilai transaksi harian di bursa masih Rp7 triliun dari sebelumnya Rp9 triliun,” jelas Kiki.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 30 Juli 2020, porsi kepemilikan investor lokal di pasar modal Indonesia mencapai 58,22 persen, sedangkan investor asing sebesar 41,78 persen.

Posisi itu jauh lebih baik dibandingkan pada 2013 ketika porsi investor asing lebih mendominasi kepemilikan aset sebesar 57,04 persen sedangkan investor lokal sebesar 42,96 persen.

Adapun dari sisi jumlah investor, KSEI mencatat terdapat 3,02 juta single investor identification (SID) hingga akhir Juli 2020. Perinciannya sebanyak 99,12 persen merupakan SID milik investor lokal sedangkan 0,88 persen sisanya merupakan SID investor asing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG investor asing investor ritel
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top