Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Emas Sepekan: Tembus Rekor Beruntun, Berakhir Anjlok 1 Persen Lebih

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2020) atau Sabtu pagi WIB, harga emas spot anjlok 1,36 persen atau 27,99 poin menjadi US$2.035,55 per troy ounce.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 09 Agustus 2020  |  06:03 WIB
Emas batangan. - bloomberg
Emas batangan. - bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas global beberapa kali mencatatkan rekor tertinggi baru pada pekan ini. Namun, membaiknya data tenaga kerja Amerika Serikat menumbuhkan rasa optimistis soal pemulihan ekonomi.

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2020) atau Sabtu pagi WIB, harga emas spot anjlok 1,36 persen atau 27,99 poin menjadi US$2.035,55 per troy ounce. Hari itu, harga emas fluktuatif dan bergerak di rentang US$2.015,58 - US$2.075,47, yang artinya sempat mencatatkan rekor tertinggi baru.

Sepanjang tahun berjalan, harga emas sudah menguat 34,16 persen. Adapun, koreksi harga emas sejalan dengan rebound dolar AS.

Akhir pekan ini, indeks dolar AS ditutup menguat 0,7 persen atau 0,647 poin menjadi 93,435, setelah bergerak di rentang 92,763 - 93.623. Sepanjang 2020, indeks dolar AS koreksi 3,06 persen.

Laporan Monex Investindo Futures menyebutkan harga emas kembali mencetak level tertinggi baru pada awal perdagangan hari Jumat (7/8) dan berada di jalur untuk kenaikan mingguan kesembilan beruntun.

Kenaikan harga emas ditopang meningkatnya permintaan yang disebabkan melemahnya dolar AS, turunnya yield Treasury AS, dan kekhawatiran terhadap pelemahan ekonomi global seiring melonjaknya kasus virus corona.

"Harga emas spot sempat mencapai level tertinggi di US$2075. Untuk pekan ini harga emas telah naik sekitar 4,7 persen," jelas Monex.

Indeks dolar AS masih bergerak di dekat level terendah lebih dari dua tahun dan menuju pelemahan mingguan ketujuh beruntun. Pelemahan dolar AS membuat harga emas menjadi lebih murah untuk pemilik mata uang lainnya.

Sementara itu untuk yield Treasury bertenor 10 tahun turun ke level terendahnya dalam lima bulan, mengurangi biaya dari kepemilikan emas yang merupakan aset non-imbal hasil.

Untuk data kasus virus corona hingga saat ini telah melampaui 18,94 juta kasus di seluruh dunia dengan Amerika Serikat di urutan teratas untuk jumlah kasus.

Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnel mengatakan bahwa ekonomi AS membutuhkan "dorongan tambahan" untuk mengatasi dampak dari pandemi, di tengah Partai Republik dan Demokrat masih jauh terpisah tentang apa yang dimasukan dalam gelombang lain dari stimulus virus corona.

Jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun pekan lalu. Namun secara mengejutkan ada sebanyak 31,3 juta orang yang menerima cek tunjangan pengangguran di pertengahan Juli, ini menunjukkan pasar tenaga kerja sedang mandek.

Selanjutnya para investor fokus pada data non-farm employment change AS yang dirilis pukul 19:30 WIB untuk petunjuk tentang perekonomian AS.

Dolar AS pun berbalik menguat setelah rilis data tenaga kerja AS yang menjadi fokus pasar pekan ini.

Data Non-Farm Payroll AS dilaporkan 1,763 juta orang, turun signifikan dari sebelumnya 4,8 juta orang pada laporan bulan Juli. Walau di atas ekspektasi 1,53 juta orang, hasil data ini menunjukkan kekhawatiran bahwa optimisme ekonomi AS sudah pada batasnya.

"Dan kemungkinan perlambatan lebih lanjut di tengah masih tingginya jumlah pasien corona di AS menjadi penghambat bagi dolar AS," papar Monex.

Namun demikian, laporan tingkat pengangguran menunjukkan penyusutan, pendapatan rata-rata meningkat dibandingkan bulan lalu, dan harapan pasar terhadap langkah stimulus kedua dari pemerintah - yang masih diperdebatkan oleh Kongres AS - menjaga minat pasar terhadap dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas Harga Emas Hari Ini dolar as
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top