Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Alfamart (AMRT) Ungkap Alasan Pemotongan Gaji Karyawan 10 Persen

Financial Plan & Reporting Manager Lana Pudjianto mengatakan potongan upah karyawan sejatinya dikarenakan mereka memiliki kewajiban tertentu yang harus dibayarkan kepada perusahaan.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 07 Agustus 2020  |  12:01 WIB
Pramuniaga melayani konsumen di salah satu mini market di kawasan Jakarta Timur, Jumat (1/3/2019). - ANTARA/Dhemas Reviyanto
Pramuniaga melayani konsumen di salah satu mini market di kawasan Jakarta Timur, Jumat (1/3/2019). - ANTARA/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA – Pengelola ritel Alfamart PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) akhirnya mengungkap alasan dibalik pemotongan gaji sebagian karyawan sebesar 10 persen.

Untuk diketahui, Aliansi Serikat Pekerja Alfamart (ASPAL) sebelumnya melakukan protes terhadap pihak manajemen akibat dari kebijakan pemotongan upah 10 persen kepada karyawan yang diakibatkan oleh nota selisih barang.

Aliansi karyawan tersebut menyebut bahwa perseroan mengambil langkah pemotongan upah karyawan sebesar 10 persen setiap bulannya jika hasil akhir perhitungan stock opname di gerai ritelnya melebihi batas toleransi kehilangan sebanyak 0,02 persen.

Karena hal tersebut, karyawan mengancam akan melancarkan aksi mogok kerja pada periode 11 hingga 13 Agustus 2020.

Berdasarkan keterangan perseroan di laman keterbukaan informasi, Jumat (7/8/2020), Financial Plan & Reporting Manager Sumber Alfaria Trijaya Lana Pudjianto mengatakan potongan upah karyawan sejatinya dikarenakan mereka memiliki kewajiban tertentu yang harus dibayarkan kepada perusahaan.

“Pembebanan nota selisih barang terjadi apabila terdapat selisih hasil stock opname di toko setelah dikurangi batas toleransi yang ditanggung perusahaan; selisih tersebut menjadi tanggungan karyawan sesuai dengan hitungan dan proporsi yang telah ditentukan,” ungkap Lana dalam keterangan resmi.

Baginya, hal ini merupakan kebijakan perusahaan yang tertuang dalam peraturan perusahaan dan telah disosialisasikan sejak awal karyawan bergabung dengan perusahaan.

Adapun, perseroan tidak memiliki informasi atau kejadian penting lainnya yang mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan dan dapat mempengaruhi harga saham perusahaan.

Dikutip dari survei BEI terhadap dampak pandemi Covid-19 terhadap perusahaan untuk periode Juni 2020, perseroan menyatakan memiliki 123.691 karyawan yang berstatus tetap dan tidak tetap.

Perseroan juga menyatakan tidak ada karyawan yang diberlakukan aturan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau berdampak secara finansial seperti pemotongan gaji akibat dari penyebaran virus mematikan tersebut.

“Hingga saat ini, karyawan perseroan tidak berdampak, masih berjalan seperti biasa,” tulis manajemen.

Sebagai gambaran, emiten berkode saham AMRT tersebut termasuk salah satu emiten yang paling beruntung karena masih mampu mencetak kenaikan laba bersih di tengah pandemi.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2020, perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih 23,2 persen secara tahunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut setara dengan perolehan laba bersih Rp493,26 miliar sepanjang periode pertama tahun 2020.

Adapun, pendapatan dari pengelola jaringan ritel Alfamart, Alfamidi hingga Lawson tersebut bertumbuh 5,33 persen secara tahunan menjadi Rp38,08 triliun pada periode awal tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

karyawan alfamart sumber alfaria trijaya
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top