Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IHSG Koreksi, Duo Saham Indofood INDF dan ICBP Sudah Layak Beli?

Jelang penutupan sesi I, Jumat (7/8/2020), saham INDF terpantau sudah terkoreksi 2,14 persen atau 150 poin ke level Rp6.875, sementara saham ICBP terpantau juga melemah 0,97 persen atau 100 poin ke level Rp10.225.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 07 Agustus 2020  |  11:15 WIB
Indomie - Ilustrasi/indofood.com
Indomie - Ilustrasi/indofood.com

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) tampak berbalik melemah usai dibumbui sejumlah sentimen positif yang mengerek harga sahamnya sejak awal pekan ini.

Jelang penutupan sesi I, Jumat (7/8/2020), saham INDF terpantau sudah terkoreksi 2,14 persen atau 150 poin ke level Rp6.875, sementara saham ICBP terpantau juga melemah 0,97 persen atau 100 poin ke level Rp10.225.

Praktis, kedua emiten Grup Salim tersebut menjadi saham yang juga memberatkan indeks hingga bergerak pada zona merah pada awal perdagangan sesi pertama akhir pekan ini.

Di lihat dari kinerja fundamentalnya, baik INDF dan ICBP sama-sama membukukan kinerja yang cemerlang sepanjang semester pertama tahun ini meski dihadang oleh pandemi Covid-19.

INDF berhasil membukukan kenaikan penjualan neto konsolidasi sebesar 2 persen menjadi Rp39,38 triliun. Dari situ, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 12 persen menjadi Rp2,84 triliun.

Bersamaan dengan induk usahanya, ICBP juga mencatatkan pertumbuhan penjualan 4 persen secara tahunan menjadi Rp23,05 triliun. Produsen Indomie tersebut membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang meningkat 31 persen menjadi Rp3,38 triliun.

Melalui siaran pers Senin (3/8/2020), ICBP juga mengumumkan bahwa pemegang saham perseroan menyetujui rencana akuisisi seluruh saham Pinehill Company Limited dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang juga diselenggarakan pada hari tersebut.

“Dengan demikian, seluruh persyaratan awal rencana transaksi sebagaimana dimaksud dalam Informasi Kepada Pemegang Saham Sehubungan Dengan Rencana Akuisisi Saham yang dipublikasikan pada tanggal 8 Juni 2020, telah terpenuhi,” tulis manajemen.

Adapun, analis Ciptadana Sekuritas Muhammad Fariz menggarisbawahi bahwa berdasarkan analisis fundamentalnya, semua segmen penjualan ICBP tergerus pada kuartal kedua tahun ini.

Berdasarkan data laporan keuangan, penjualan khusus kuartal kedua untuk segmen mie instan menurun (-5,4 persen) menjadi Rp7,3 triliun, diikuti produk dairy (-5,4 persen) menjadi Rp2 triliun, makanan ringan (-11,1 persen) menjadi Rp661 miliar, penyedap makanan (-13,5 persen) menjadi Rp587 miliar dan minuman (-39,6 persen) menjadi Rp249 miliar secara kuartalan.

Namun jika dilihat secara tahunan, penjualan semester pertama hampir semua segmen bertumbuh seperti; mie instan (+5,5 persen) menjadi Rp15 triliun, produk diary (+3,2 persen) menjadi Rp4,2 triliun, makanan ringan (+1,5 persen) menjadi Rp1,4 triliun, dan penyedap makanan (+25,3 persen) menjadi Rp1,2 triliun.

“Kami berharap kinerja negatif hanya tertinggal di kuartal kedua dan kemungkinan akan dinormalisasi secara bertahap,” ungkap Fariz dalam publikasi riset, Senin (3/8/2020).

Sekuritas akhirnya masih mempertahankan rekomendasi beli saham ICBP. Dengan menggunakan basis penilaian valuasi untuk proyeksi tahun 2021 yakni PER 21x, target harga yang dihasilkan lebih tinggi yakni Rp12.050 (sebelumnya Rp11.900).

Di sisi lain, analis Mirae Asset Sekuritas Mimi Halimin menyampaikan laba bersih INDF pada kuartal kedua tahun ini mencapai Rp1,4 triliun, mampu meningkat 20,3 persen secara tahunan dan 2,5 persen secara kuartalan.

Laba bersih perseroan pada paruh pertama tahun ini juga sejalan dengan ekspektasi sekuritas yakni 55,1 persen dan proyeksi konsensus 53,9 persen dari total target pendapatan untuk keseluruhan tahun 2020.

“Sementara itu, kami mencatat bahwa pendapatan INDF pada kuartal II/2020 cukup tangguh, didukung oleh pemulihan segmen agribisnis,” ungkap Mimi dalam publikasi risetnya, Selasa (4/8/2020).

Berdasarkan masing-masing segmen bisnis, sekuritas mencatat bahwa consumer branded product (CBP) membukukan penjualan sebesar Rp11,3 triliun (+2,7 persen YoY, -0,8 persen QoQ), Bogasari membukukan penjualan sebesar Rp5,6 triliun (-4,3 persen YoY, +3,0 persen QoQ) pada kuartal kedua tahun ini.

Sementara, segmen agribisnis membukukan penjualan sebesar Rp3,5 triliun (+12.0 persen YoY, +5.5 persen QoQ), dan distribution membukukan pendapatan sebesar Rp1,2 triliun (+12.7 persen YoY, +5.2 persen QoQ) pada periode April hingga Juni 2020.

“Secara keseluruhan, kami mempertahankan proyeksi pendapatan dan laba bersih kami di INDF dan mempertahankan rekomendasi beli kami di INDF dengan target harga Rp8.600,” tutup Mimi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indofood rekomendasi saham grup salim
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top