Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IHSG Anjlok 2,6 Persen, BBCA dan Saham BUMN Jumbo Jadi Penekan Utama

Pelemahan IHSG semakin dalam pada perdagangan awal Agustus 2020.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 03 Agustus 2020  |  10:01 WIB
Pekerja berswafoto dengan latar belakang pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG pada Senin (11/5/2020) berakhir di level 4.639,1 dengan penguatan sekitar 0,91 persen atau 41,67 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Pekerja berswafoto dengan latar belakang pergerakan Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (11/5/2020). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG pada Senin (11/5/2020) berakhir di level 4.639,1 dengan penguatan sekitar 0,91 persen atau 41,67 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA - Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin dalam pada perdagangan Senin (3/8/2020) seiring dengan aksi jual saham emiten jumbo.

Pada pukul 9.50 WIB, IHSG melemah 2,6 persen atau 133,86 poin menjadi 5.015,76, setelah bergerak di rentang 5.015,53 - 5.157,27. Terpantau 64 saham menguat, 327 saham melemah, dan 137 saham stagnan.

Sejumlah saham berkapitalisasi jumbo yang mengalami aksi jual menjadi penekan utama IHSG. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) misalnya terkoreksi 2,16 persen menjadi Rp30.525.

Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) turun 3,8 persen menuju Rp2.040. Saham BUMN lainnya, yakni PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) koreksi 4,26 persen menjadi Rp2.920.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) masing-masing merosot 3,45 persen dan 3,04 persen menuju Rp5.600 dan Rp4.460.

Analis memprediksi maraknya sentimen negatif diprediksi membuat pasar saham Indonesia cenderung terkoreksi pada Agustus 2020.

Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee mengatakan pasar tengah dalam tren menanjak seiring dibukanya kembali aktivitas ekonomi. Bahkan pada Juli indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya menembus level 5.000 meski masih dibayangi volatilitas.

Dia menyebut pada Juli kemarin kinerja pasar saham masih ditopang oleh optimisme kenormalan baru, tidak adanya gelombang kedua, progress pembuatan vaksin, serta sentimen positif dari laporan keuangan perusahaan khususnya di bursa Amerika Serikat.

Namun, jelang akhir bulan dia menilai sentimen positif tersebut mulai pudar dan mulai tertekan oleh sejumlah sentimen negatif seperti meningkatnya tensi antara AS dan China serta kurang mulusnya stimulus perekonomian Amerika.

Di dalam negeri, perkembangan kasus Covid-19 yang kian melambung juga menambah bayang-bayang gelap untuk pasar. Belum lagi kinerja laporan keuangan mayoritas emiten yang anjlok di paruh pertama tahun ini.

“Orang mulai sadar pembuatan vaksin masih membutuhkan waktu. Efek dari laporan keuangan [Wall Street] mulai pudar, lalu laba korporasi di Indonesia mulai keluar,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis.

Hans memproyeksikan kinerja pasar saham sepanjang Agustus ini akan kembali tertekan, akibat menguatnya sentimen-sentimen negatif tersebut. Ditambah lagi, pasar tengah menunggu angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2020 yang diprediksi minus.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG saham bca
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top