Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

KASUS PASAR MODAL: Saat Nafsu Investasi Tak seiring dengan Literasi

Sejumlah kasus di pasar modal berawal dari ketidaktahuan investor dalam mengelola portofolionya.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 28 Juli 2020  |  10:02 WIB
Karyawan melintas di dekat layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (9/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawan melintas di dekat layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (9/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Pekan lalu langit ibukota terlalu kelabu persis seperti IHSG yang ditutup memerah ke level 5.051 terkoreksi 0,56 persen.

Meski demikian, Lo Kheng Hong tetap tersenyum lebar sekalipun indeks gabungan ditutup melemah. Pria berusia 61 tahun itu memberi kabar kepada rekan sejawat di grup Whatsapp.

“Nilai saham saya naik Rp150 miliar, lumayan,” tulisnya sambil tersenyum gembira kepada para kolega di grup –yang mayoritas diisi oleh sesama investor, kepala riset sekuritas, analis dan lain-lain.

Para kolega Pak Lo, begitu sapaan akrabnya, segera memberikan selamat serta acungan jempol. Setelah itu Pak Lo mengatakan semua berkat Tuhan. Portofolio Pak Lo yang naik tajam adalah PT Petrosea Tbk. (PTRO) dari posisi Rp800 pada maret 2020 menjadi Rp1.800 pada Senin (20/7/2020).

Sebagaimana diketahui, IHSG pada Maret menyentuh pada titik nadir karena mencapai level terendah selama tahun berjalan di 3.937 dengan berulang kali trading halt. Bursa Efek Indonesia bahkan mencatat investor asing menarik dana dari pasar modal mencapai Rp15 triliun.

Sementara itu, Lo Kheng Hong justru membeli saham PT Petrosea Tbk. (PTRO). Beberapa analis yang ditanyai oleh Bisnis mengatakan tidak mengetahui strategi yang dilancarkan oleh Pak Lo saat itu.

Dalam catatan Bisnis, Lo Kheng Hong mulai ‘belanja saham’ PTRO dan MBSS mulai Senin (16/3/2020). Kala itu, IHSG ditutup terkoreksi 4,42 persen ke level 4.690,66.

Jika merujuk pada harga penutupan pada hari tersebut, pria yang akrab disebut Warren Buffet-nya Indonesia itu merogoh kocek Rp95,9 juta untuk membeli 350.000 lembar saham MBSS, dan Rp588,5 juta untuk membeli 550.000 lembar saham PTRO.

Saat ini total kepemilikan Pak Lo di PTRO mencapai 155,66 juta saham. Pria kelahiran 1959 itu akan menerima setoran dividen sekitar US$1,04 juta dari kinerja PTRO tahun buku 2019. Jika menggunakan asumsi kurs tengah BI Rp15.707 per dolar Amerika Serikat (AS), Rabu (15/4/2020), maka dividen yang diterima sekitar Rp16,42 miliar.

Kisah cuan Lo Kheng Hong yang menjadi besar di pasar modal akan selalu menginspirasi banyak orang. Pasalnya, tanpa bekerja keras banting tulang kepala jadi kaki atau sebaliknya, aset dan kekayaan dapat terus bertambah secara otomatis.

Berinvestasi sejak dini juga yang mendorong Alvin Yakobus untuk menanamkan tabungannya. Alvin menggunakan jasa Jouska dan Amarta Investa Indonesia untuk mengelola dana milknya. Pria yang berprofesi sebagai dokter itu mulai terjun pada akhir 2018.

Setelah satu tahun lebih, portofolio Alvin kebakaran karena anjlok sampai dengan 80 persen. Penurunan disebabkan oleh kinerja PT Sentral Mitra Informatika Tbk. (LUCK). Dua per tuga dana yang ditanamkan oleh Alvin dibelikan saham distributor printer dan mesin fotokopi.

Oleh sebab itu dia mengungkapkan kerugian itu kepada publik. Menurutnya materi telah dipersiapkan sejak awal tahun, namun baru berani dia ungkapkan pada tengah tahun ini.

“Ketika saya menunjuk mereka saya percaya dana akan dikelola dengan baik. Pasalnya ini Jouska yang ketika itu sedang hype jadi minim kemungkinannya untuk salah berinvestasi,” katanya kepada Bisnis.

Alvin tidak sama sekali memahami pasar modal ketika masuk sebagai investor. Bahkan setelah membuat rekening dana investor (RDI), dia memberikan password dan user name-nya kepada penasihat. Sesuatu yang sangat tabu seperti memberikan pin atm dan atm kepada orang lain.

Nasi telah menjadi bubur, kerugian investasi tidak bisa Alvin elak karena harga saham LUCK merosot ke Rp332 dari level Rp1.700. Dia mengaku telah melakukan cut loss sejak Maret lalu mengganti password akun dan membuka RDI baru.

Alvin berhenti menjadi klien Jouska, tetapi dia tidak keluar menjadi investor. Dia bertekad untuk mengembalikan dana yang telah hilang melalui instrumen yang sama berdagang saham.

“Saat ini saya punya akun yang buat trading harian dan jangka menengah, Dalam setahun ini saya akan belajar meskipun kadang cuan atau bahkan rugi,” katanya. Menurutnya, yang terjadi olehnya akan dijadikan untuk tidak terlalu percaya kepada orang lain dalam hal kelola dana.

Selain Alvin, masih ada nasabah lain yang mengalami kasus yang serupa. Berdasarkan dokumen yang diterima bisnis, potensi kerugian salah satu klien bahkan mencapai Rp700 juta karena skema yang serupa.

Masih segar juga dalam ingatan perihal kasus IPO Nara Hotel yang telah menghimpun dana mencapai Rp202 miliar. OJK memutuskan IPO perusahaan hotel itu batal karena terdapat perbedaan antara dokuman informasi tambahan yang disampaikan kepada OJK dengan yang diumumkan kepada publik mengenai pengungkapan porsi penjatahan saham.

Di satu sisi, Nara Hotel melakukan kesalahan karena tidak menerbitkan perubahan prospektus setelah proses bookbuilding. Namun di sisi lain, calon investor yang menjadi sumber Bisnis mengakui bahwa ia salah karena tidak membaca secara detil prospektus yang diterima saat masa penawaran.

Menurutnya emiten anyar memiliki potensi kenaikan yang signifikan saat pencatatan hingga auto reject atas (ARA) selama beberapa hari. Hal itu yang mendorong dia membeli saham NARA tanpa membaca lebih detil.

Setelah, penjatahan saham bagi sistem pooling diketahui mencapai 99 persen. Para investor baru mendesak OJK agar dana dikembalikan. Pasalnya terdapat potensi ARA yang mereka kejar tidak akan terealisasi.

Memasuki usia ke-28 BEI, jumlah SID sampai dengan Semester I/2020 mencapai 2,92 juta dengan jumlah investor saham mencapai 1,23 juta SID. Dalam kedua kasus yang terjadi pada tahun ini, terdapat kesamaan bahwa nafsu untuk berinvestasi tinggi tetapi tidak dilandasi oleh kekuatan literasi.

Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) Pandu Patria Sjahrir mengatakan pihaknya memiliki tantangan besar usai mencuatnya kasus Jiwasarya dan Jouska. Menurutnya kepecayaan investor perlu dikembalikan.

“Kami harus melakukan edukasi dan menadik perusahaan teknologi dan non-teknologi yang besar untuk masuk BEI dengan begitu dapat menarik berinvestasi di pasar modal,” katanya.

Menurutnya untuk berhasil di pasar modal caranya mudah dengan membeli saham perusahaan yang bagus. “Spekulasi boleh tapi tetap pegang saham utama,” katanya.

Sementara itu di sudut lantai 2 gedung BEI yang saat ini sepi terpasang sebuah kutipan Warren Buffett yang melegenda. “Beli saham yang membuat mu senang meskipun pasar modal ditutup selama 10 tahun.”

Menjadi investor cerdas seperti Warren Buffett atau Lo Kheng Hong tentunya bukan perkara mudah. Namun, seminimal mungkin kita tetap harus melakukan studi dan banyak membaca sebelum memutuskan berinvestasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi bursa efek indonesia Jouska
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top