Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jaga Margin, Vale Indonesia (INCO) Tekan Biaya Produksi

PT Vale Indonesia Tbk. berupaya menjaga margin dengan melakukan serangkaian strategi, termasuk efisiensi biaya. Bagaimana caranya?
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 26 Juli 2020  |  13:53 WIB
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA FOTO/Basri Marzuki
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA FOTO/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pertambangan nikel, PT Vale Indonesia Tbk., menekan biaya produksi sebagai salah satu strategi menjaga margin di tengah fluktuasi harga komoditas dan tantangan bisnis akibat pandemi Covid-19.

Direktur Keuangan Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan saat ini, perseroan masih melanjutkan inisiatif efisiensi biaya produksi yang telah dimulai sejak 2018, untuk menjaga margin di tengah fluktuasi harga nikel. Inisiatif terbaru yang dilakukan tahun ini adalah Obeya, inisiatif disruptif yang bertujuan untuk mencari peluang improvement dengan menantang status quo

Emiten berkode saham INCO itu juga mengimplementasikan Vale Production System, sebuah model manajemen untuk mengikutsertakan karyawan di semua level untuk melakukan perbaikan secara terus menerus guna mencapai keunggulan operasi.

“Secara kumulatif, diharapkan rutin dan pendekatan ini akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi yang pada akhirnya berpengaruh pada turunnya biaya,” ujar Bernardus kepada Bisnis, Jumat (24/7/2020).

Adapun biaya produksi per unit perseroan hingga Juni 2020, berada di bawah US$7.000 per ton, jauh lebih rendah daripada biaya produksi per unit periode yang sama tahun lalu. Untuk diketahui, realisasi biaya produksi per unit INCO sepanjang 2019 sebesar US$7.500 per ton.

Bernardus menjelaskan penurunan itu dipengaruhi oleh penurunan harga minyak dan komoditas lain. Selain itu, pencapaian target produksi dan inisiatif penghematan biaya turut berkontribusi.

Di sisi lain, INCO telah memproduksi nikel dalam matte sebanyak 18.701 ton pada kuartal II/2020. Realisasi itu naik 6 persen dibandingkan dengan volume produksi perseroan pada bulan sebelumnya, yang sebesar 17.614 ton.

Angka ini pun lebih tinggi daripada realisasi produksi periode yang sama tahun sebelumnya, yang berada di kisaran 17.631 ton.

Dengan demikian, sepanjang paruh pertama tahun ini produksi nikel dalam matte INCO sebesar 36.315 ton, naik 18 persen dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama tahun lalu, yang sebesar 30.711 ton. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Nikel vale indonesia tbk
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top