Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

MI Pilih SUN untuk Reksa Dana Pendapatan Tetap, Ini Alasannya

Baik obligasi pemerintah maupun korporasi yang menjadi aset dasarnya diperkirakan bisa mencetak kinerja positif apabila ekonomi pulih dengan cepat pascapandemi.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 20 Juli 2020  |  18:50 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — PT Sucorinvest Asset Management melihat ada peluang imbal hasil menarik dari reksa dana pendapatan tetap menjelang akhir tahun.

Adapun, baik obligasi pemerintah maupun korporasi yang menjadi aset dasar (underlying asset) diperkirakan bisa mencetak kinerja positif apabila ekonomi pulih dengan cepat pascapandemi.

Di tengah kekhawatiran gagal bayar obligasi korporasi, obligasi pemerintah pun menjadi pilihan satu-satunya untuk diserap.

Jemmy Paul Wawointana, Presiden Direktur Sucor AM, menargetkan yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun dapat menyentuh 7,2 persen pada akhir 2020. Hal itu ditopang oleh harapan pemulihan ekonomi dunia setelah pemerintah membuka kembali aktivitas ekonomi dan sosial.

“Ekonomi mulai membaik, tapi kami melihat saat ini inflow dari investor asing masih kurang [di pasar SUN], mungkin tahun depan [dana asing masuk lagi],” kata Jemmy pekan lalu.

Untuk obligasi korporasi, Jemmy menyampaikan risiko gagal bayar masih tinggi. Hal itu tercermin dari beberapa pemangkasan rating dan outlook untuk para obligor di sepanjang semester I/2020.

Dari sisi harga, dalam beberapa bulan terakhir obligasi korporasi juga menawarkan pricing yang kurang baik dan bahkan harganya ada yang turun lebih dalam dari harga SUN. Dengan demikian, saat ini manajer investasi masih lebih banyak mengakumulasikan SUN ketimbang obligasi korporasi.

Namun demikian, Jemmy menilai saat ini menjadi peluang untuk mengumpulkan obligasi korporasi yang berkualitas. Pasalnya, ketika ekonomi tumbuh dengan cepat dan stabilitas finansial dunia membaik, peringkat utang korporasi tersebut setidaknya akan kembali di-upgrade dalam setahun ke depan.

“Korporasi sendiri ada yang default, tapi itu lebih kepada [penyebab] sebelum Covid-19. Kalau dlihat, ada yang belum bisa bayar pokok dan bunganya memang karena sebelumnya sudah bermasalah juga sebelum Covid-19,” ujar Jemmy.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surat utang negara manajer investasi reksa dana
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top