Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Wacana Bank Sentral Khusus Produsen Minyak Bergulir

Menteri Perminyakan Arab Saudi Abdulaziz bin Salman melempar gagasan agar OPEC+ bertindak sebagai bank sentral produsen minyak.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 13 Juli 2020  |  14:03 WIB
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California - Bloomberg / David Paul Morris
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California - Bloomberg / David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA – Arab Saudi melancarkan wacana untuk menjadi bank sentral bagi anggota OPEC+. Apakah hal ini dapat berimbas positif bagi harga minyak?

Bloomberg melansir bahwa Menteri Perminyakan Arab Saudi Abdulaziz bin Salman melempar gagasan agar OPEC+ bertindak sebagai bank sentral produsen minyak. Ide itu tercetus dari kekagumannya pada Alan Greenspan, mantan ketua Federal Reserve A.S.

Gagasan itu muncul setelah aliansi berhasil menggandakan harga minyak mentah selama beberapa bulan terakhir melalui pemangkasan produksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. OPEC+ yang dipimpin oleh Saudi dan Rusia siap untuk mulai melepaskan langkah-langkah stimulus. Ketika permintaan bahan bakar pulih dengan pelonggaran lockdown di berbagai negara para produsen akan sedikit membuka keran.

Namun, Helima Croft Kepala Strategi Komoditas di RBC Capital Markets LLC menilai hal itu memiliki resiko besar. Pasalnya, gelombang kedua pandemi mengancam kemerosotan permintaan dalam konsumsi minyak. Sementara itu masih terdapat miliaran barel yang menumpuk selama wabah pertama. Jika OPEC+ meningkatkan pasokan sama seperti sebelum pandemi maka harga bisa jatuh sekali lagi.

"Ketika mereka melihat harga selama kuartal ini, mereka melihat kenaikan permintaan, saya pikir mereka merasa baik. Saya pikir mereka sadar ada resiko di depan sana," katanya dilansir Bloomberg, Senin (13/7/2020).

Menurutnya ini adalah tindakan yang Pangeran Abdulaziz dan rekan-rekannya harus pertimbangkan pada 15 Juli. Ketika mereka mengadakan pertemuan online Joint Minsterial Monitoring Committee (JMMC) yang meninjau kemajuan OPEC+.

Salah satu agenda JMMC adalah mempertimbangkan aliansi ke-23 negara harus menjaga 9,6 juta barel produksi harian untuk pasar pada satu bulan lagi. Opsi kedua adalah mengembalikan beberapa pasokan sesuai rencana semula dengan mengurangi pemotongan produksi menjadi 7,7 juta barel.

Menurut sumber Bloomberg, para anggota cenderung ke opsi yang terakhir karena permintaan mulai meningkat. Jadwal pengiriman untuk Agustus sudah ditetapkan, sehingga volumenya telah terkunci.

Sementara itu di Rusia, anggota non-OPEC yang paling berpengaruh dari aliansi itu sedang bersiap untuk meningkatkan produksi bulan depan tanpa adanya panduan lain dari Kementerian Energi. Hal itu diungkapkan oleh dua orang dari industri yang tidak ingin disebutkan.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan pada 2 Juli bahwa belum ada keputusan penambahan produski. Namun dia  menekankan bahwa lebih baik jika OPEC+ tetap pada keputusan sebelumnya.

OPEC+ dapat melanjutkan peningkatan yang ditunjuk tanpa membanjiri pasar, kata Bob McNally, pendiri konsultan Rapidan Energy Group dan mantan pejabat Gedung Putih. Menurutnya, permintaan global akan meningkat 18 persen pada kuartal III menjadi 95,7 juta barel per hari karena aktivitas ekonomi berlanjut.

Dia memperkirakan itu akan mengurangi persediaan pada 5,6 juta barel per hari. "Cadangan kami menunjukkan defisit yang cukup besar di kuartal ketiga dan keempat, bahkan dengan pengurangan produksi. Saya pikir pasar akan meresponnya dengan cukup baik."

Meski demikian, penambahan produksi bukan tanpa resiko karena pasar yang rapuh. Harga minyak memang telah pulih ke US$43 per barel di London, dari terendah dalam dua dekade US$15,98 pada akhir April.

Akan tetapi akselerasi pandemi di AS dan kemunculannya kembali di Asia membayangi prospek Badan Energi Internasional yang akan mempengaruhi ekonomi terutama pada kebijakan energi. Pasalnya, persediaan minyak mentah di AS dan Cina mendekati level rekor terbesar dari data pemerintah.

"Jenis pemulihan pasar yang diharapkan orang mungkin saat ini belum terwujud. Tidak ada keraguan bahwa pasar akan terus ketat sesuai konsensus. Kita belum sampai di sana," kata Mohammad Darwazah, seorang analis di Medley Global Advisors.

Sebagai hasilnya, Arab Saudi diharapkan untuk bisa memulihkan produksi tetapi negara-negara aliansi harus tetap mematuhi batasan yang diamanatkan. Selain itu, eksportir yang belum melakukan bagian pengurangan harus menebusnya.

Di sisi lain, Irak, Nigeria, Kazakhstan, dan Angola adalah negara yang akan menebus pemotongan produksi selama beberapa bulan ke depanyang setara dengan sekitar 420.000 barel per hari setiap bulan. JMCC memperkirakan itu akan mengimbangi beberapa lonjakan produksi 2 juta barel sehingga dapat memaksakan pengurangan lebih lanjut untuk menyeimbangkan kelebihan produksi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

opec arab saudi minyak mentah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top