Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Porsi Asing di SBN Amblas, Begini Nasib Harga Obligasi RI

Porsi investor asing di surat berharga mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 09 Juli 2020  |  17:25 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com,JAKARTA — Porsi kepemilikan asing di surat berharga negara (SBN) domestik yang dapat diperdagangkan menyentuh level di bawah 30 persen atau pertama kalinya dalam 5 tahun terakhir.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), kepemilikan asing di surat berharga negara (SBN) domestik yang dapat diperdagangkan senilai Rp933,09 triliun hingga Selasa (7/7/2020). Jumlah itu terdiri atas Rp907,19 triliun di surat utang negara (SUN) dan Rp25,92 triliun di surat berharga syariah negara (SBSN).

Secara persentase, total kepemilikan asing di SUN dan SBSN sebesar 29,88 persen hingga Selasa (7/7/2020). Dari data yang dihimpun Bisnis, posisi itu menjadi yang terendah pada rentang 2016—2020.

Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana mengatakan penurunan porsi kepemilikan karena investor asing masih melihat risiko ekonomi di Indonesia. Kondisi itu tercermin dari jumlah pasien positif Covid-19, nilai credit default swap (CDS), dan stabilitas nilai tukar rupiah yang masih cukup berisiko.

“Tetapi perlu dilihat juga yang turun itu kan proporsi asing di tradable SBN. Tetapi di non tradable atau private placement belum tentu,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (9/7/2020).

Sementara itu, pergerakan harga surat utang negara (SUN) Indonesia tengah dalam tren positif. Hal itu tercermin dari pergerakan yield atau imbal hasil seri acuan di pasar sekunder.

Imbal hasil SUN tenor 10 tahun Indonesia parkir di level 7,070 persen pada Kamis (9/7/2020) pukul 16:16 WIB. Posisi itu turun dari 7,097 persen pada akhir sesi Rabu (8/7/2020).

Sementara itu, yield SUN tenor 5 tahun Indonesia mengalami penurunan dari 6,401 persen menjadi 6,388 persen. Selanjutnya, yield SUN tenor 15 tahun Indonesia juga mengalami penurunan dari 7,562 persen menjadi 7,551 persen.

Adapun, yield SUN tenor 20 tahun Indonesia juga turun dari 7,602 persen menjadi 7,578 persen pada Kamis (9/7/2020).

Sebagai catatan, pergerakan harga obligasi dan yield obligasi saling bertolak belakang. Kenaikan harga obligasi akan membuat posisi yield mengalami penurunan sementara penurunan akan menekan tingkat imbal hasil.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surat utang negara
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top