Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penempatan Dana Pemerintah di Bank BUMN Jadi Sentimen Positif Pasar Pekan Depan

Ketentuan yang mengatur mekanisme penempatan uang negara pada dana bank umum dalam pemulihan ekonomi nasional (PEN) tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.70/PMK.05/2020.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 28 Juni 2020  |  12:50 WIB
Karyawan beraktifitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (23/6/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan beraktifitas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (23/6/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA -- Penempatan dana pemerintah senilai Rp30 triliun di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) atau bank BUMN akan menjadi sentimen positif bagi pasar.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan keputusan pemerintah tersebut memberikan sentimen positif karena akan memperkuat perbankan nasional.

Penempatan dana pemerintah tersebut akan disalurkan dalam bentuk kredit. Ketentuan yang mengatur mekanisme penempatan uang negara pada dana bank umum dalam pemulihan ekonomi nasional (PEN) tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.70/PMK.05/2020.

Dari regulasi tersebut, otoritas fiskal meminta bank mitra yang dijadikan tempat untuk penempatan uang negara harus memberikan remunerasi atau bunga kepada pemerintah.

"Ini merupakan sentimen positif karena memperkuat perbankan nasional," katanya, Minggu (28/6/2020).

Meskipun demikian, data pengangguran masih belum membaik sehingga menegaskan prediksi sebelumnya, yang menilai pembukaan ekonomi tidak akan mengembalikan daya beli. Pengusaha pun masih cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat lemahnya daya beli.

"Pasar perlu konfirmasi kenaikan daya beli dan perbaikan data ekonomi sesudah pembukaan ekonomi," katanya.

Selain itu, International Monetary Fund (IMF) memangkas prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi minus 0,3 persen dari sebelumnya 0,5 persen. Dampak Covid-19 membuat proyeksi ekonomi Indonesia menurun, tetapi jauh lebih baik dari negara-negara lain di dunia.

Bahkan, IMF memproyeksi dunia memasuki periode resesi. IMF menilai perlu lebih banyak stimulus untuk mendorong ekonomi.

Selain itu, potensi perang dagang meningkat setelah para pejabat Cina memperingatkan adanya campur tangan Amerika Serikat di Hong Kong dan Taiwan dapat membuat Beijing mundur dari komitmennya untuk membeli barang pertanian AS. Berita ini menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan dunia.

Dari sejumlah indikator tersebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang konsolidasi melemah di level 4.821 sampai 4.712 dan resistance di level 4.977 sampai 5.018.

"Pasar di awal pekan akan di warnai kekawatiran lonjakan kasus Covid-19 yang telah mendorong potensi lockdown di beberapa negara bagian Amerika Serikat hingga peningkatan kasus di Jerman juga menjadi sentimen negatif pasar," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG perbankan bank bumn
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top