Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Banjir Likuiditas, OCBC Securities: Saham dan Emas Makin Diincar

Perdagangan saham yang biasanya akan dianggap sebagai aset berisiko dan emas sebagai aset minim risiko merupakan perpaduan cocok dengan tema potensial saat ini ketika dunia banjir stimulus.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 27 Juni 2020  |  07:57 WIB
Bursa saham AS - Reuters
Bursa saham AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Perdagangan saham AS, emas dan perak semakin marak seiring dengan upaya investor bersiap-siap meraih untung dalam pemulihan pandemi Covid-19.

Kepala Bursa Berjangka dan Forex OCBC Securities Keeve Tan megungkapkan klien institusional OCBC khususnya mereka yang memasang taruhan melalui opsi yang menekankan pada kenaikan harga aset sehingga mereka dapat meraup untuk saat dunia dibanjiri uang tunai.

"Baru-baru ini kami telah melihat banyak klien institusional melakukan opsi - long call option - terutama pada saham berjangka S&P, dan long call pada perak dan emas," kata Tan dikutip dari Bloomberg.

Opsi long call adalah strategi yang paling umum di mana investor membeli aset dengan harapan harga pasar dari aset dasar tersebut naik jauh di atas harga pembelian, sebelum asetnya jatuh tempo.

Tan menilai perdagangan saham yang biasanya akan dianggap sebagai aset berisiko (risk-on) dan emas sebagai aset minim risiko (risk-off) merupakan perpaduan cocok dengan tema potensial saat ini ketika dunia banjir stimulus.

Bank-bank sentral dan pemerintah di seluruh dunia telah melemparkan triliunan dolar stimulus untuk mengurangi dampak pandemi Covid-19 dan untuk memastikan likuiditas yang memadai dalam sistem keuangan.

Semburan uang tunai kemungkinan akan meningkatkan saham, sehingga menekan pergerakan mata uang seperti dolar AS dan mengangkat emas sebagai aset lindung nilai.

Tan juga memperkirakan volatilitas menjadi surut. Dia mengatakan Indeks Volatilitas Cboe, atau VIX tampaknya mengikuti pola yang terlihat selama Krisis Keuangan Global, yaitu indeks akan memuncak di atas 80, sebelum jatuh kembali untuk mencetak lonjakan yang lebih kecil sesudahnya.

Indeks yang disebut sebagai 'indeks acuan ketakutan' ini ditutup di level 32,22 pada Kamis (25/6/2020). VIX rata-rata bergerak di level 19,4 sejak pertama ditemukan.

Tan menambahkan investor mungkin takut untuk sementara waktu, tetapi akhirnya mereka akan menyesuaikan diri dengan paradigma baru seperti yang diciptakan oleh pandemi ini.

"Bukan kebiasaan manusia untuk tetap takut," ujar Tan. Dia yakin VIX akan kembali ke tingkat normal seiring realitas baru di perekonomian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham emas likuiditas

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top