Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Melemah, Negara Ini Bangun Tangki Jumbo

Oman Tank Terminal Co. hampir menyelesaikan 8 tangki jumbo untuk menyipan minyak mentah dekat kota Duqm di dekat Laut Arab. Rencananya tangki itu bakal disewakan ke produsen minyak atau pedagang.
Tangki minyak Aramco terlihat di fasilitas produksi di ladang minyak Saudi Aramco di Shaybah, Arab Saudi, Selasa (22/5/2018)./Reuters
Tangki minyak Aramco terlihat di fasilitas produksi di ladang minyak Saudi Aramco di Shaybah, Arab Saudi, Selasa (22/5/2018)./Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Oman berencana membangun tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas 25 juta barrel.

Oman Tank Terminal Co. hampir menyelesaikan 8 tangki jumbo untuk menyipan minyak mentah dekat kota Duqm di dekat Laut Arab. Rencananya tangki itu bakal disewakan ke produsen minyak atau pedagang.

Fasilitas tangki itu berada 600 mili dari jalur air namun 100 mil lebih dekat dengan Pelabuhan Fujairah yang menjadi hub bagi 14 juta barrel minyak mentah komersial. Alan Gelder, Vice President for Oil Markets Wood Mackenzie Ltd. menilai tangki milik Oman bakal menjadi lokasi penyimpanan yang menarik di luar Teluk Persia.

“Tangki penyimpanan yang siapa saja bisa pakai di luar Selat Hormuz, untuk pengiriman ke barat atau timur adalah hal yang bagus,” katanya seperti dilansir dari Bloomberg pada Kamis (18/6/2020).

Sebagaimana diketahui, setelah wabah corona menyerang tangki penyimpanan minyak adalah hal yang krusia;. Pasalnya permintaan menurun sedangkan pasokan tetap terjaga sehingga produsen dan pedagang harus mencari ruang penimbunan sementara.

Meski demikian Robin Mills, Founder of Dubai-Based consulting firm Qamar Energy menilai Oman telah kehilangan momentum pada Maret dan April.

“Menyewakan tanki akan memberikan pendapatan tambahan bagi Oman, yang ekonominya telah terpukul tahun ini oleh virus dan penurunan harga minyak. Defisit anggarannya diperkirakan membengkak menjadi 17 persen dari produk domestik bruto pada tahun 2020 dan pemerintah telah membahas meminta bantuan negara-negara Teluk lainnya untuk bantuan keuangan,” katanya.

Sementara itu, David Lennox Analis Fat Prophets di Sydney mengatakan permintaan bahan bakar akan tetap di bawah tekanan pada semester II karena pemulihan bertahap dalam ekonomi global tidak akan cukup untuk mengimbangi kemerosotan dalam semester I.

"Kami telah melihat cukup banyak aksi dari para pemasok untuk menaikkan harga minyak, tetapi kami belum mendapatkan kendali atas virus corona, dan itulah yang akan diawasi OPEC selama pertemuannya. Kami akan melihat tekanan pada anggota bandel untuk mengikuti ketetapan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Pandu Gumilar
Editor : Hafiyyan
Sumber : bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper