Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Peringkat Emiten Batu Bara Terancam Turun Jika Harga Terus Melemah

Berdasarkan hasil stress test yang dilakukan oleh Fitch, mayoritas emiten batu bara akan mendapat penurunan peringkat jika harga batu bara asumsi harga akan terus lemah hingga pertengahan 2021.
Aktivitas di pelabuhan PT Bayan Resources Tbk. Istimewa
Aktivitas di pelabuhan PT Bayan Resources Tbk. Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, memperkirakan peringkat sebagian besar perusahaan batu bara Indonesia rentan terhadap penurunan peringkat jika pelemahan harga batu bara dan permintaan yang rendah berlanjut hingga 2021.

Dalam laporan terbarunya, Fitch Ratings memaparkan hasil stress test terhadap kerentanan perusahaan tambang batu bara Indonesia, termasuk kontraktor tambang batu bara. Tes itu mengukur beberapa skenario waktu pemulihan harga dan permintaan komoditas emas hitam itu.

Dalam skenario pertama, stress test dilakukan untuk dengan asumsi harga batu bara yang lemah akan bertahan hingga 2020 dan berangsur pulih pada awal 2021. Skenario kedua dilakukan dengan asumsi harga akan terus lemah hingga pertengahan 2021.

Hasilnya, PT Indika Energy Tbk. (INDY), PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), dan PT ABM Investama Tbk. (ABMM) sudah mengalami penurunan peringkat bahkan saat masih diuji dengan skenario pertama. Posisi peringkat dan prospek ketiga obligor itu adala :

  • INDY memiliki peringkat BB-, outlook negatif
  • BUMA memiliki peringkat BB-, outlook negatif
  • ABMM memiliki peringkat B+, outlook negatif

Sementara itu, Golden Energy and Resources Limited yang memiliki peringkat B+ dan outlook stabil dinilai baru akan turun peringkat menjadi negatif setelah diuji dengan skenario kedua.

Di sisi lain, Fitch berpendapat bahwa PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) dengan peringkat BBB- dan outlook stabil menjadi emiten paling tangguh terhadap penurunan industri batu bara. Hal ini disebabkan integrasi operasi penambangan kontraknya, fleksibilitas operasi, biaya penambangan rendah, leverage rendah, dan likuiditas yang kuat. 

Selain itu, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) berperingkat BB-  dengan outlook stabil juga dianggap sebagai emiten paling tanggung kedua terhadap penurunan industri batu bara  karena posisi biaya yang rendah dan leverage yang rendah.  stress test skenario kedua.

“Risiko refinancing cenderung rendah ke sedang hingga 2022-2023 untuk sebagian besar emiten dalam laporan ini, kecuali untuk BUMA entitas anak usaha PT Delta Dunia Makmur Tbk. (DOID), yang mungkin memerlukan dana refinancing yang cukup besar sebelum 2022,” jelas Fitch.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper