Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

New Normal, Lampu Hijau Kebangkitan Saham Transportasi

Dalam sebulan terakhir, laju saham emiten yang bergerak di sektor transportasi menguat cukup signifikan. Rencana pemberlakuan kenormalan baru dinilai menjadi pemicu utama.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  07:00 WIB
Pengemudi mengoperasikan taksi listrik Bluebird di sela-sela peluncurannya di Jakarta, Senin (22/4/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Pengemudi mengoperasikan taksi listrik Bluebird di sela-sela peluncurannya di Jakarta, Senin (22/4/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah emiten sektor transportasi optimistis keadaan normal baru (new normal) akan dapat memulihkan kinerja perusahaan seperti semula. Sejumlah langkah antisipatif pun juga telah disiapkan.

Direktur Keuangan PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) Hindra Tanujaya mengatakan, kondisi perseroan saat ini masih cukup baik. Angka penyewaan atau rental mobil dinilai masih cukup stabil di tengah kondisi pandemi virus corona.

“Memang ada penurunan di penjualan mobil bekas, tetapi juga ada sektor usaha ASSA yang naik, yaitu di bisnis kurir kami Anteraja,” katanya saat dihubungi pada Rabu (3/6/2020) di Jakarta.

Ia mengatakan, pihaknya menyambut positif rencana pencabutan PSBB dan menyongsong bisnis dalam kondisi normal yang baru. Menurutnya, keadaan new normal akan memunculkan pelanggan baru atau pelanggan tetap yang membutuhkan kendaraan operasional sehingga membuat bisnis ASSA kembali berjalan.

Pada masa normal baru, Hindra mengatakan pihaknya akan mengikuti seluruh arahan dari pemerintah terkait industri transportasi. Ia juga memastikan karyawan-karyawan perusahaan tetap mengikuti protokol kesehatan yang sudah ada.

“Kami optimistis kinerja perusahaan dapat pulih seperti sebelum kondisi pandemi virus corona. Bila Juni ini pemerintah sudah membolehkan bisnis berjalan bertahap, saya rasa untuk bisnis kami di tahun ini juga sudah bisa kembali ke kinerja semula,” katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Irfan Setiaputra mengatakan pihaknya juga mendukung kondisi normal baru yang akan diberlakukan pemerintah. Menurutnya, hal ini amat penting dalam proses pemulihan industri transportasi, terutama maskapai penerbangan.

“Kita akan ikut aturan new normal. Kita juga menyiapkan langkah-langkah antisipatif dari implikasi yang akan muncul akibat kondisi ini,” ujarnya.

Secara terpisah, Head of Investor Relations PT Blue Bird Tbk (BIRD) Michael Tene mengatakan, pihaknya masih terus mengkaji kemungkinan realisasi new normal terhadap kinerja perusahaan. Menurutnya, pencabutan PSBB memang diperkirakan akan meningkatkan jumlah penumpang seiring dengan mobilitas masyarakat yang ikut naik.

“Prediksi pemulihan kinerja BIRD belum dapat ditetapkan. Kami masih terus membahasnya,” katanya.

Sementra itu, BIRD juga tengah menyiapkan beberapa protokol baru dalam kegiatan operasional perusahaan. Saat ini, Blue Bird masih mempertimbangkan efektivitas sejumlah langkah yang akan diambil dalam memberikan keamanan dan keselamatan bagi penumpang.

Sebelumnya, BIRD juga telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Beberapa kebijakan yang dilakukan adalah dengan memberikan desinfektan kepada seluruh unit operasi setiap hari, memastikan kesehatan pengemudi taksi sebelum operasi, mewajibkan penggunaan masker bagi pengemudi, dan menyediakan hand sanitizer di dalam taksi.

Berdasarkan data Bloomberg per Rabu (3/6/2020), salah satu emiten yang mengalami kenaikan kinerja adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Emiten berkode saham GIAA tersebut mengalami lonjakan nilai saham sebesar 33,70 persen dalam sebulan terakhir.

Selain itu, PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) juga turut membukukan rapor positif dengan mencatat pertumbuhan nilai sebesar 9,17 persen. Emiten transportasi lain, PT Blue Bird Tbk (BIRD) juga mencetak peningkatan sebesar 17,99 persen pada periode yang sama.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, faktor utama laju positif emiten di sektor ini adalah sentimen dari kenaikan pasar global. Saat ini, pasar saham dunia tengah bergairah karena telah dibukanya aktivitas ekonomi di sejumlah negara setelah pandemi virus corona.

Khusus untuk GIAA, Alfred mengatakan, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari pemerintah juga menjadi salah satu sentimen positif lainnya. Dalam PEN, pemerintah nantinya akan yang memberikan tambahan anggaran ke sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), termasuk GIAA.

Selain itu, ia menuturkan, wacana terkait berakhirnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) juga menjadi katalis positif bagi sektor transportasi. Hal tersebut membuat kegiatan operasional perusahaan-perusahaan kembali berjalan. Meski demikian, wacana ini dinilai tidak hanya berpengaruh pada satu sektor saja.

“Seluruh sektor terpengaruh akibat rencana PSBB yang akan segera berakhir, termasuk juga emiten transportasi,” katanya saat dihubungi pada Rabu (3/6/2020) di Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Garuda Indonesia adi sarana armada Blue Bird New Normal
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top