Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Walau Amblas, Saham INDF dan ICBP Tetap Layak Dikoleksi, Begini Prospeknya

Hingga sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (26/5/2020), saham Indofood Sukses Makmur dan Indofood CBP Sukses Makmur turun lebih dari 6 persen dan terkena auto rejection bawah (ARB)
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 26 Mei 2020  |  13:03 WIB
Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk Anthoni Salim (kanan) memberikan penjelasan kepada awak media usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) dan luar biasa, di Jakarta, Rabu (29/5/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk Anthoni Salim (kanan) memberikan penjelasan kepada awak media usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) dan luar biasa, di Jakarta, Rabu (29/5/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Saham dua emiten Grup Salim terjungkal hingga akhir sesi pertama perdagangan hari ini, Selasa (26/5/2020). Penurunan harga saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dan entitas anaknya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) merupakan reaksi negatif investor terhadap rencana akuisisi Pinehill Group.

Harga saham INDF maupun ICBP menyentuh batas bawah hingga terkena auto rejection bawah atau ARB. Direktur Perdagangan dan Penilaian Anggota Bursa Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo mengkonfirmasi hal tersebut kepada Bisnis, pagi ini.

“Ya betul (ICBP dan INDF terkena auto reject bawah),” ujarnya singkat..

Menurut Laksono, hanya dua emiten yang terkena ARB hingga hingga penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, yaitu saham INDF dan ICBP.

Saham ICBP terpantau terjun 6,77 persen atau 650 poin ke level Rp8.950. Setali tiga uang, pergerakan saham induk usahanya INDF pun anjlok 6,61 persen atau 425 poin ke level Rp6.000.    

Untuk diketahui, amblesnya harga saham kedua emiten yang terdaftar sebagai anggota konstituen indeks Bisnis-27 tersebut tersulut oleh sentimen akuisisi ICBP dengan Grup Pinehill.

Pada Jumat (22/5/2020), melalui surat keterangan perseroan di laman keterbukaan informasi, ICBP menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan Pinehill Corpora Limited dan Steele Lake Limited.

Harga pembelian seluruh saham telah disepakati sebesar US$2,99 miliar atau setara dengan Rp44,33 triliun (asumsi kurs Rp14.785 per dolar AS). Perseroan menyatakan, sumber pembiayaan transaksi berasal dari kas perseroan sebesar US$300 juta, sisanya berasal dari fasilitas pinjaman dari lembaga perbankan.

Mirae Asset Sekuritas menyatakan rencana transaksi tersebut akan sangat berdampak terhadap rasio utang produsen Indomie tersebut.

Analis Mirae Mimi Halimin menyebut ICBP membutuhkan utang tambahan sekitar Rp30,3 triliun untuk menyelesaikan transaksi tersebut.

“Kami berpikir bahwa pengumuman ini akan menimbulkan reaksi negatif dari investor karena kami percaya bahwa di tengah kondisi yang tidak menentu dan perekonomian yang lesu ini, investor akan lebih memilih untuk berinvestasi di perusahaan yang memiliki neraca keuangan yang kuat,” ungkap Mimi dalam publikasi risetnya, Selasa (26/5/2020).

Namun, dari sisi operasional perusahaan, pihaknya percaya bahwa akuisisi dapat meningkatkan volume penjualan dan memperkuat posisi perseroan di pasar global.

Sementara itu, akuisisi Pinehill oleh ICBP otomatis juga akan memperbesar rasio utang induk usahanya INDF.

Mimi memperkirakan, jika akuisisi terlaksana, debt-to-equity ratio (DER) INDF dapat melonjak hingga sekitar 1 kali pada akhir tahun 2020. Padahal, pada periode kuartal pertama tahun ini, rasio DER emiten Grup Salim tersebut hanya sebesar 0,5 kali.

Sembari menunggu hasil dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa untuk meminta persetujuan dari pemegang saham atas rencana transaksi, Mimi mempertahankan rekomendasi beli untuk saham ICBP dan INDF masing-masing Rp11.900 dan Rp8.600.

Penurunan target harga ICBP dan INDF oleh sekuritas mempertimbagkan price-to-earning ratio 26,1 kali dan 14,6 kali estimasi earning per share pada tahun 2020. Risiko dari rekomendasi tersebut adalah beban bunga yang lebih tinggi dari perkiraan, harga bahan baku yang melonjak, depresiasi rupiah yang kian memburuk dan pergerakan ekonomi yang melambat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indofood
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top