Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tensi Amerika Serikat-China Meningkat, Harga Minyak Longsor

Harga minyak terpantau mengalami kontraksi dikarenakan hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan China yang semakin memanas.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 25 Mei 2020  |  10:01 WIB
Pengeboran minyak lepas pantai. Bloomberg
Pengeboran minyak lepas pantai. Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak terpantau mengalami kontraksi akibat ketegangan hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan China yang semakin memanas.  

Futures New York lagi-lagi terkoreksi 1,2 persen pada awal perdagangan, Senin (25/5/2020), setelah sempat jatuh 2 persen pada akhir pekan lalu. Hal tersebut tentu memicu kekhawatiran memburuknya hubungan antara kedua negara adidaya dapat mempersulit pemulihan pasar dikarenakan jatuhnya permintaan.

Namun, terdapat tanda-tanda pasar minyak mentah mulai menunjukkan pemulihan. Shale drillers Amerika Serikat telah memotong jumlah rig aktif ke level terendahnya sejak 2009.

Menurut data Baker Hughes, produsen minyak di Amerika Serikat juga sudah memangkas jumlah rig minyak dari 21 hingga 237 pada minggu lalu. Hal ini sudah terjadi selama 10 minggu berturut-turut.

Hal tersebut sejalan dengan upaya OPEC+ memangkas produksi harian hingga hampir 10 juta barel dalam upaya untuk mengurangi kelebihan pasokan.

Untuk diketahui, harga minyak telah melonjak sekitar 75 persen pada bulan ini setelah Cina dan India melakukan permintaan yang disebabkan pelonggaran lockdown, ditambah persediaan minyak mentah di Amerika Serikat mulai menurun. Namun, pemulihan harga minyak diperkirakan akan sangat lama dan belum pasti, dengan risiko gelombang kedua COVID-19 yang kemungkinan akan mempersulit rebound.

Kepala Strategi Pasar AxiCorp Ltd. Stephen Innes mengatakan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China akan terus memburuk kondisi ekonomi.

“Namun, dampak keseluruhan mungkin terbatas jika tidak ada ‘pembalasan agresif’ dari China,” tuturnya.

Rencananya, pertemuan umum produsen minyak terbesar di Amerika Serikat dan Eropa minggu ini akan membahas seberapa besar pihak-pihak tersebut sudah menahan pasokannya. Hal ini mengingat harga minyak di Amerika Serikat sendiri sudah menyentuh titik terendah sepanjang dua dekade.

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin sedang menyusun ancang-ancang untuk mendukung industri minyak di negaranya yang kemudian akan disampaikannya pada 15 Juni mendatang.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) untuk kontrak Juli di bursa New York Mercantile Exhange terkontraksi 39 sen menjadi US$32,86 per barel pada pukul 9.39 waktu Singapura.

Sementara, harga minyak Brent untuk kontrak Juli di bursa ICE Futures Europe juga terkoreksi 1,5 persen menjadi US$34,6. Padahal, pada hari Jumat (22/5/2020), harga minyak Brent juga sempat jatuh 2,6 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak china amerika serikat
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top