Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sukuk Tenor Pendek Dinilai Bakal Jadi Favorit

Pelaku pasar disebut lebih menyukai instrumen sukuk bertenor pendek untuk menghindari risiko di tengah kondisi ekonomi yang belum kondusif.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 18 Mei 2020  |  17:17 WIB
 Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat
Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com,JAKARTA — Surat berharga syariah negara atau sukuk negara tenor pendek diprediksi masih menjadi mencari incaran sejalan dengan perilaku investor yang masih menghindari risiko.

Berdasarkan siaran pers Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pemerintah telah melakukan lelang surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk negara, Senin (18/5/2020). 

Hasilnya, total penawaran yang masuk senilai Rp18,85 triliun untuk enam seri SBSN yang terdiri atas 1 surat perbendaharaan negara syariah (SPN-S) dan lima project based sukuk (PBS).

Hasil lelang menunjukkan penawaran terbanyak masuk untuk seri PBS026 yang jatuh tempo 15 Oktober 2024 dengan total Rp5,68 triliun. Dari penawaran yang masuk, yield atau imbal hasil rerata tertimbang yang dimenangkan 7,07 persen dengan jumlah nominal dimenangkan Rp2,70 triliun.

Seri selanjutnya yang paling diincar oleh investor yakni PBS002 yang jatuh tempo 15 Januari 2022 dengan total penawaran masuk Rp5,09 triliun. yield rerata tertimbang yang dimenangkan 6,15 persen dengan jumlah nominal yang dimenangkan Rp3,4 triliun.

Adapun, total nominal yang dimenangkan dari keenam seri yang ditawarkan senilai Rp9,5 triliun. Jumlah itu lebih besar dari target indikatif yang dipasang pemerintah senilai Rp7 triliun.

Head of Research & Market Information Department Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie menilai serapan yang cukup tinggi lantaran pemerintah tengah mengejar target. Hal itu memenuhi likuiditas untuk membiayai APBN.

“Selain itu, penyerapan tinggi juga karena peluang yield rendah seiring dengan tren penurunan yield di pasar sekunder. Kalau dilihat, memang yield yang diminta peserta lelang cenderung rendah jika dibandingkan dengan lelang sebelumnya,” paparnya kepada Bisnis, Senin (18/5/2020).

Roby menuturkan tenor pendek masih banyak diincar karena investor masih menghindari risiko. Menurutnya, seri dengan tenor pendek akan menjadi incaran ke depan karena kondisi ekonomi yang belum kondusif.

“Pasar diperkirakan masih sideways jelang rapat dewan gubernur [RDG] Bank Indonesia karena belum ada sentimen baru lanjutan,” jelasnya.

Berdasarkan data Bloomberg, yield surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun Indonesia mengalami penurunan pada sesi, Senin (18/5/2020). Imbal hasil bergerak ke level 7,691 persen atau turun 0,67 basis poin dari 7,758 persen saat penutupan akhir pekan lalu.

Imbal hasil SUN tenor 10 tahun Indonesia berada dalam tren penurunan sejak 8 Mei 2020. Saat itu, posisi yield masih berada di level 8,060 persen.

Secara terpisah, Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana juga memprediksi sukuk negara tenor jangka pendek masih akan menjadi pilihan. Pasalnya, dari sisi konsumen, jenis itu relatif memiliki risiko dan volatilitas lebih rendah.

“Sementara dari penerbit memberikan cost of fund [berbentuk yield] yang lebih rendah,” ujarnya.

Fikri memproyeksikan pasar sukuk negara masih akan stabil. Pasalnya, Bank Indonesia diperkirakan masih akan memberikan ruang bagi stabilitas dan penciptaan likuiditas di dalam negeri.

“Di saat yang sama, pandemi Covid-19 di Indonesia maupun global belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir sehingga sepertinya belum akan ada kejutan atau tambahan signifikan dari sisi permintaan yang bisa mempengaruhi yield ataupun harga,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sukuk
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top