Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mencari Jejak Uang di Tengah Banjir Stimulus

Banjir stimulus fiskal dan moneter di pasar global ini menciptakan peluang investasi mulai dari obligasi hingga ekuitas di pasar berkembang.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 17 Mei 2020  |  11:35 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA - Stimulus lebih dari US$8 triliun telah diguyurkan oleh pemerintah di seluruh dunia untuk menghadapi krisis Covid-19.

Tidak hanya itu, bank sentral seluruh dunia - Mulai dari Washington hingga Wellington - juga menyumbang ribuan miliar dalam bentuk stimulus moneter.

Kondisi ini menciptakan peluang investasi mulai dari obligasi hingga ekuitas di pasar berkembang. Pasar obligasi China yang luas yang dipenuhi surat utang korporasi dengan peringkat junk dinilai belum menguntungkan.

Namun, M&G Investment melihat surat utang China masih memiliki ruang untuk mengejar ketertinggalan dengan rekan-rekan yang berperingkat lebih tinggi karena pemerintah China terus memompa stimulus.

Patrik Schowitz dari JPMorgan Asset Management mengatakan rating surat utang saat ini didukung dengan baik oleh bank sentral. Alhasil, ini menjadi kesempatan baik untuk menambahkan aset berisiko ke dalam portofolio.

"Jika Anda berpikir tentang hasil tinggi, di mana masih banyak rasa sakit yang akan datang, atau utang pasar berkembang di mana masih ada banyak mata uang dan potensi masalah neraca pembayaran yang akan datang, itu adalah area yang kurang menarik," ungkap Schowitz dalam Bloomberg TV.

Dia menegaskan manajer investasi akan menjauhi aset berisiko. Di sisi lain, dia melihat surat utang dengan peringkat investasi masih tradeable.

Sementara itu, beberapa investor melihat peluang di pasar surat utang dengan peringkat rendah. Surat utang dari negara tersebut ini memiliki risiko default yang meningkat, karena negara-negara tersebut berjuang dengan resesi terburuk sejak The Great Depression.

Tetapi sekali lagi, dia melihat kondisi itu tergantung pada dukungan bank sentral. Setelah Federal Reserve mengatakan pada bulan April bahwa mereka akan mulai membeli sejumlah surat utang yang peringkatnya diturunkan menjadi junk.

Kondisi krisis ini juga memicu bonanza penerbitan utang dengan imbal hasil tinggi. Lebih dari US$37 miliar surat utang dilepas di pasar AS pada bulan April lalu.

Desmond Soon Kepala Manajemen Investasi untuk Asia-Jepang di Western Asset Management Program mengungkapkan pembelian surat utang korporasi oleh The Fed juga memberikan kepercayaan dan dukungan yang mendasari untuk kredit rating untuk aset keuangan di Asia dalam kategori BBB, BB dan di bawahnya.

"Kami pikir ada manfaatnya ditengah kondisi yang membayangi the Fed," katanya.

Perlambatan ekonomi yang berkelanjutan di China telah memicu dorongan bagi pemerintah bertindak. Hal ini menguntungkan investor. Dibandingkan AS, China relatif jauh lebih maju dalam niatan membuka kembali ekonominya.

Direktur Investasi M&G Investments di Singapura Pierre Chartres mengatakan kinerja terbaik dari obligasi peringkat tinggi baru-baru ini menunjukkan adanya potensi kenaikan yang lebih kecil. Dia melihat beberapa surat utang dengan imbal hasil tinggi yang lebih menarik.

"Di mana kami telah menambahkan beberapa eksposur di pasar surat utang dengan imbal hasil tinggi di China," katanya di Bloomberg TV.

“Tentu saja jauh lebih berisiko, terutama surat utang dari beberapa pengembang real estate. Tetapi beberapa dari mereka memang memiliki akses ke pendanaan darat," sambungnya.

Selain itu, data dari infeksi virus di China yang memberikan dampak positif.

Andrew McCaffery, Kepala Investasi Global di Fidelity International, mengungkapkan dirinya tetap waspada melihat aset keuangan di pasar negara berkembang, baik saham dan surat utang.

"Pasar-pasar ini umumnya memiliki kapasitas lebih sedikit untuk memulai stimulus, mempertahankan suku bunga rendah dan menghindari capital outflow," katanya.

Valuasinya yang ekstrem itu memang menawarkan beberapa daya tarik, terutama di China yang akan meluncurkan stimulus tambahan untuk mendukung permintaan.

Stimulus ini akan dibarengi oleh penurunan suku bunga. "Keputusan kebijakan yang diambil oleh China secara umum sangat efisien dan mereka secara mendasar dapat mendorong awal ekonomi, sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh ekonomi Barat," kata Ahli Strategi Makro Senior di Nordea Asset Management Sebastien Galy.

Di sisi lain, stimulus dari pemerintah dan otoritas moneter selama krisis telah menyebabkan kurang independensi di bank sentral.

Manajer Portofolio Multi-Aset di BNP Paribas Asset Management Colin Harte mengatakan jika tren itu berjalan lebih jauh, inflasi dapat meningkat. Risiko ini akan dihindari oleh pasar.

"Jika dunia kembali ke situasi di mana uang dicetak dan dibelanjakan dengan cepat oleh pemerintah, alih-alih diendapkan di neraca bank, ini akan meningkatkan inflasi," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi stimulus china

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top