Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Anjlok, Risiko Keuangan Emiten Sektor Migas Tinggi

Risiko meningkat karena biaya produksi minyak lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual minyak yang telah anjlok.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 29 April 2020  |  16:46 WIB
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak. - Bloomberg
Ilustrasi. Tanki penimbunan minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Anjloknya harga minyak telah menjadi ancaman bagi seluruh emiten di sektor minyak dan gas. Moody's Investor Service menilai perusahaan di bidang eksplorasi dan produksi (E&P) dan jasa pengeboran minyak (OFS) akan terpapar dampak paling signifikan dari penurunan harga minyak.

Dalam riset terbarunya, Moody's Investor Service menilai kedua sektor itu akan menghadapi risiko keuangan yang sangat tinggi, terutama emiten berperingkat rendah dan memiliki utang jatuh tempo pada 2020-2021.

Moody's memperkirakan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau EBITDA emiten di bidang E&P turun setidaknya 50 persen pada tahun ini.  Hal itu diperkirakan terjadi karena harga minyak mentah dunia saat ini berada di bawah harga produksi mayoritas perusahaan E&P minyak.

“Dengan harga minyak mentah di bawah cash cost production,  produsen menghadapi pilihan yang sulit. Tetap memproduksi dengan risiko kehilangan profit atau memilih untuk menutup produksinya,” tulis Moody's dalam publikasi risetnya, Rabu (29/4/2020).

Untuk perusahaan di bidang jasa pengeboran minyak atau oil field services and drilling (OFS), kinerja keuangan diprediksi menyusut secara dramatis pada 2020 dan kemungkinan tidak akan pulih sepenuhnya pada 2021.

Hal tersebut dikarenakan produsen minyak dan gas akan memangkas investasi modal dan membatasi kegiatan pengeboran. Pendapatan agregat sektor ini akan dihancurkan, dan mungkin turun lebih dari 40 persen pada  2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sementara itu, untuk perusahaan di bidang midstream diprediksi mengalami pertumbuhan moderat terhadap EBITDA perusahaan pada tahun ini. Bahkan, variabel ketidakpastian saat ini akan mengancam untuk menurunkan EBITDA perusahaan pada tahun depan. 

Kualitas kredit perusahaan di bidang itu akan menurun dengan cepat karena operator midstream juga menghadapi penurunan kualitas kredit yang cepat dari pelanggan counterparty

Untuk perusahaan di bidang pemurnian dan pemasaran atau refining and marketing (R&M) akan mengalami penurunan permintaan untuk produk olahan karena pandemi Covid-19 telah menyeret aktivitas ekonomi.

Arus kas diperkirakan berkurang karena penurunan keuntungan dan kebutuhan modal kerja lebih tinggi. Dampak terburuk diperkirakan terjadi pada paruh pertama tahun ini.

Permintaan untuk bensin dan bahan bakar jet telah anjlok, sedangkan penggunaan diesel yang stabil akan membayangi kinerja perusahaan di bidang R&M.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak moody's
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top