Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investor Pantau Volatilitas Sektor Energi, Bursa Global Menguat

Di Asia, mayoritas bursa saham menguat, dengan indeks Shanghai Composite naik 0,6 persen, sedangkan indeks Hang Seng menguat 0,55 persen. Di sisi lain indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,74 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 22 April 2020  |  15:03 WIB
Bursa Shanghai Composite Index - Reuters
Bursa Shanghai Composite Index - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham global menguat pada perdagangan Rabu (22/4/2020), sejalan dengan kontrak berjangka bursa AS karena investor memantau volatilitas lanjutan di pasar energi dan laporan keuangan emiten yang masih variatif.

Indeks Stoxx Europe 600 dibuka menguat, dengan kenaikan saham teknologi dan telekomunikasi mengimbangi penurunan sektor energi.

Di Asia, mayoritas bursa saham menguat, dengan indeks Shanghai Composite naik 0,6 persen, sedangkan indeks Hang Seng menguat 0,55 persen. Di sisi lain indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,74 persen.

Kontrak indeks S&P 500 menguat setelah indeks saham ditutup lebih dari 3 persen  pada hari Selasa, ketika investor mengabaikan kesepakatan yang dicapai oleh Gedung Putih dan Kongres mengenai paket stimulus fiskal baru.

Harga minyak mentah Brent jatuh karena patokan itu terseret lebih jauh ke dalam gejolak yang mengirim minyak WTI ke bawah nol pekan ini. Brent terpantau melemah 10,04 persen ke level US$17,39 per barel pada pukul 14.34 WIB.

Bencana minyak mungkin menjadi tanda bahwa pukulan terhadap ekonomi global dari wabah virus corona akan lebih dalam atau lebih lama daripada yang diantisipasi oleh investor.

Meski begitu, beberapa negara telah bergerak untuk melonggarkan langkah-langkah pembatasan yang diterapkan untuk menahan penyebaran wabah Covid-19.

Sementara itu, kinerja perusahaan beragam: Chipotle Mexican Grill Inc. merevisi proyeksi laba, sementara Netflix mencatat peningkatan jumlah pelanggan hampir dua kali lipat pada kuartal pertama.

Roche Holding AG mengatakan masih mengharapkan kenaikan laba kecil tahun ini karena permintaan untuk obat-obatan terlaris naik dan produsen obat ini tengah pengembangkan alat tes untuk Covid-19.

"Kinerja penghasilan perusahaan cenderung tidak dapat diprediksi saat ini," ungkap Michael Cuggino, manajer portofolio di Pacific Heights Asset Management LLC, seperti dikutip Bloomberg.

"Ini hampir mustahil sampai kita memiliki lebih banyak kejelasan mengenai jalan dengan bagaimana dunia keluar dari wabah virus corona," lanjutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa global
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top