Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Targetkan Pendapatan Tumbuh 24 persen, Saham KAEF Menanjak 8 Persen

Pada penutupan perdagangan Rabu (22/4/2020), saham KAEF menanjak 8,71 persen atau 105 poin menjadi Rp1.310, setelah bergerak di rentang Rp1.185 - Rp1.330. Artinya, saat penutupan harga sedang mencapai puncaknya.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 22 April 2020  |  17:23 WIB
Karyawan Kimia Farma di gudang obat. - Kimia Farma
Karyawan Kimia Farma di gudang obat. - Kimia Farma

Bisnis.com, JAKARTA – Saham PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) menanjak pada perdagangan Rabu (22/4/2020) seiring dengan rencana perusahaan mengerek pendapatan.

Perusahaan menargetkan pendapatan pada 2020 dapat bertumbuh 24,46 persen year on year (yoy) menjadi Rp11,7 trilun.

Pada penutupan perdagangan Rabu (22/4/2020), saham KAEF menanjak 8,71 persen atau 105 poin menjadi Rp1.310, setelah bergerak di rentang Rp1.185 - Rp1.330. Artinya, saat penutupan harga sedang mencapai puncaknya.

Nilai transaksi mencapai 30,26 juta saham senilai Rp39,2 miliar. Kapitalisasi pasarnya meningkat menuju Rp7,28 triliun.

Sepanjang tahun berjalan, saham KAEF menguat 4,8 persen. Dalam sebulan terakhir, harga melambung 56,89 persen.

Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo menyatakan target pendapatan perseroan sebesar Rp11,7 triliun pada tahun ini. Sumber pendapatan berasal dari bisnis distribusi bidang logistik obat, alat kesehatan, dan layanan kesehatan.

“Dari distribusi bidang logistik obat, alat kesehatan, dan layanan kesehatan untuk penanganan wabah juga dapat menjadi pendorong tercapainya target pendapatan perseroan,” paparnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI lewat konferensi video, Selasa (21/4/2020).

Dikutip dari laporan keuangan konsolidasiannya, Kimia Farma mencatatkan kenaikan angka penjualan dari Rp8,46 triliun pada periode tahun 2018 menjadi Rp9,4 triliun pada 2019.

Namun demikian, posisi laba dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk perseroan pada 2018 sebesar Rp491,56 miliar berbalik menjadi rugi bersih Rp12,72 miliar pada 2019.

Budi menyampaikan perseroan akan memangkas belanja modal atau capex yang tadinya Rp1,98 triliun menjadi Rp1,44 triliun. Hal itu disesuaikan dengan perkembangan kondisi saat ini yang tengah dibayangi wabah Covid-19.

Dia mengatakan bahwa srategi pengurangan pinjaman berbunga secara bertahap akan dilakukan seiring penurunan belanja modal itu. Perseroan menargetkan jumlah pinjaman berbunga akan turun Rp837 miliar, menjadi Rp7,42 triliun pada tahun ini.

Perseroan juga akan berupaya memangkas anggaran beban usaha pada tahun ini. Anggaran beban usaha ditargetkan dapat terpangkas Rp208 miliar, menjadi Rp3,55 triliun dari sebelumnya Rp3,76 triliun.

Dia juga mengatakan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah lembaga lainnya dalam penanganan Covid-19.

Sementara itu, meski pendapatan dapat meningkat 26,11 persen pada tahun lalu, realisasinya hanya mencapai 81,16 persen dari target awal. Hal ini terjadi karena adanya pendapatan yang tertunda dari institusi pemerintah, sebesar Rp889 miliar.

“Pendapatan tumbuh 26,11 persen, tapi pada 2019 juga pendapatan kami dari pemerintah tertunda, jadi ada potensi margin kotor sekitar Rp284 miliar,” ujarnya.

Dia menyampaikan bahwa tidak tercapainya target pendapatan tersebut, perseroan mengalami kenaikan rasio beban keuangan terhadap pendapatan sebesar 4,56 persen, atau sebesar Rp428 miliar. Rasio beban itu naik dari 29,61 persen pada 2018 menjadi 34,17 persen pada 2019.

Kenaikan ini terjadi karena perseroan telah menganggarkan belanja modal yang cukup besar pada tahun lalu, yakni sekitar Rp2,53 triliun, meningkat hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

Pendanaan belanja modal ini banyak mengandalkan pinjaman berbunga, sehingga total beban keuangan menjadi Rp498 miliar, naik 165,88 persen.

Dia memaparkan selain dari belanja modal, peningkatan beban keuangan juga diakibatkan oleh belum diterimaya pelunasan piutang dari pelanggan yang mencapai Rp1,2 triliun. Dampaknya terhadap beban keuangan mencapai Rp96 miliar.

“Sehingga, target laba bersih tidak tercapai, baik karena kehilangan potensi margin yang Rp284 miliar itu dan adanya kenaikan beban keuangan Rp96 miliar dari piutang tadi,” ujarnya.

Budi menyampaikan strategi perseroan memperbaiki kinerja pada tahun ini akan berfokus pada pemaksimalkan hasil investasi sepanjang 2017—2019. Selain itu perseroan akan befokus mengkonsolidasikan fasiltias produksinya.

Adapun, starategi dari sisi pengembangan produk akan dilakukan produksi jenis produk baru seperti obat herbal, multivitamin, bahan baku, dan kosmetik. Dari sisi operasi, perseroan juga akan memperbaiki rantai pasok dan distribusinya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emiten farmasi kimia farma transaksi saham
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

BisnisRegional

To top