Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investor Waswas Jelang Rilis Laporan Keuangan, Bursa Jepang Tergelincir

Bursa saham Jepang tergelincir dari penguatannya dan berakhir di zona merah pada perdagangan hari ini, Senin (20/4/2020), saat investor mengambil sikap hati-hati menjelang rilis serangkaian laporan keuangan korporasi.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 April 2020  |  15:34 WIB
Indeks Bursa Jepang - Reuters
Indeks Bursa Jepang - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Jepang tergelincir dari penguatannya dan berakhir di zona merah pada perdagangan hari ini, Senin (20/4/2020), saat investor mengambil sikap hati-hati menjelang rilis serangkaian laporan keuangan korporasi.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Topix ditutup di level 1.432,41 dengan pelemahan 0,70 persen atau 10,13 poin dari level 1.442,54 pada penutupan perdagangan Jumat (17/4/2020).

Sejalan dengan Topix, indeks Nikkei 225 berakhir di level 19.669,12 dengan penurunan tajam 1,15 persen atau 228,14 poin dari level 19.897,26 pada perdagangan sebelumnya. Sepanjang perdagangan hari ini, Nikkei bergerak dalam kisaran 19.611,79 – 19.784,38.

Saham Comsys Holdings Corp. yang turun 4,17 persen membukukan penurunan terdalam, disusul saham Chugai Pharmaceutical Co. Ltd. (-3,88 persen) dan Daiichi Sankyo Co. Ltd. (-3,87 persen).

Sektor kesehatan pada awalnya mendapat dorongan ketika banyak perusahaan berlomba-lomba menguji obat-obatan untuk menghadapi pandemi virus corona (Covid-19). Namun, sektor ini kemudian melepaskan sebagian dari kenaikannya karena investor gelisah dan mulai mengambil untung.

Chugai Pharmaceutical Co dan produsen elektronik Omron Corp. dijadwalkan untuk merilis laporan laba mereka pada Kamis, sementara produsen peralatan pengujian semikonduktor Advantest Corp. dan pembuat robot industri Fanuc Corp. akan merilis laporannya pada Jumat pekan ini.

Investor dipastikan akan mencermati hasil dan proyeksi yang disertakannya untuk menimbang-nimbang kondisi perusahaan Jepang.

“Banyak perusahaan tidak akan menyampaikan proyeksi mereka karena virus corona, dan banyak investor siap menerimanya,” ujar Hideyuki Ishiguro, ahli strategi senior di Daiwa Securities, dikutip dari Economic Times.

“Masih ada risiko penurunan di Jepang, karena infeksi meningkat dan langkah-langkah yang kami ambil tidak seketat langkah di negara lain,” tambahnya.

Pekan lalu, peneliti di Teikoku Databank Ltd. melaporkan bahwa pandemi virus corona telah memaksa 217 perusahaan Jepang yang tercatat di bursa merevisi perkiraan keuntungan dan penjualan tahun ini.

Sebagian besar perusahaan yang memperingatkan risiko penurunan laba dan penjualan berasal dari industri manufaktur, atau mewakili seperempat dari total perusahaan yang melakukan koreksi.

Industri jasa menempati urutan kedua, dengan 53 perusahaan yang merevisi proyeksi mereka.

Sementara itu, meskipun hanya ada 26 perusahaan keuangan dan asuransi yang melakukan revisi proyeksi, mereka memiliki andil atas sebagian besar dari proyeksi pendapatan yang hilang hingga 767 miliar yen atau 44 persen dari total potensi kerugian.

Di sisi lain, sejumlah perusahaan menolak untuk memberikan proyeksi atau pandangan bisnis ke depan. Kondisi ini serta merta mencerminkan sebagian dampak dari virus corona.

"Tampaknya akhir dari dampak wabah belum terlihat, dengan kebangkrutan terkait virus corona sudah mencapai 61 kasus," papar Teikoku, seperti dikutip melalui Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nikkei 225 bursa jepang indeks topix
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top