Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IHSG Bangkit, Mayoritas Sektor Angkat Indeks Memantul 1,47 Persen

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencetak rebound dan naik lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (2/4/2020).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 02 April 2020  |  16:16 WIB
Karyawan di dekat papan elektronik yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (26/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Karyawan di dekat papan elektronik yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (26/3/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencetak rebound dan naik lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (2/4/2020).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pergerakan IHSG ditutup di level 4.531,68 dengan kenaikan tajam 1,47 persen atau 65,65 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (1/4/2020), IHSG terguling ke zona merah dan berakhir di level 4.466,04 dengan penurunan tajam 1,61 persen atau 72,89 poin.

Sebelum bangkit ke zona hijau, indeks sempat memperpanjang pelemahannya bahkan turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Kamis pagi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 4.393,67 – 4.531,68.

Sebanyak 8 dari 10 sektor dalam IHSG menetap di wilayah positif, dipimpin industri dasar (+4,27 persen), barang konsumen (+3,95 persen), dan manufaktur (+3,92 persen). Adapun sektor properti dan finansial masing-masing terkoreksi 0,77 persen dan 0,08 persen.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) yang masing-masing naik 8,5 persen dan 9 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG.

Indeks saham lain di Asia cenderung berakhir antara zona merah dan hijau. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing ditutup melorot 1,57 persen dan 1,37 persen. Indeks Taiex Taiwan juga turun 0,46 persen dan indeks S&P/ASX 200 Australia merosot nyaris 2 persen.

Sebaliknya, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing menguat 1,69 persen dan 1,62 persen, indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,84 persen, bahkan indeks Kospi Korea Selatan melonjak 2,34 persen.

Penguatan juga dialami indeks saham lain di Asia Tenggara, seperti FTSE Straits Times Singapura (+0,51 persen), indeks FTSE KLCI Malaysia (+0,57 persen), dan SET 50 Thailand (+3,32 persen).

Secara keseluruhan, pasar saham global bergerak variatif di tengah lonjakan harga minyak mentah. Saham energi mendorong penguatan indeks Stoxx Europe 600 setelah China, importir terbesar di dunia untuk minyak, memanfaatkan kemerosotan harga minyak sebesar 60 persen tahun ini untuk menambah cadangan strategisnya.

Selain untuk cadangan milik negara, Beijing juga dapat menggunakan ruang penyimpanan komersial dan mendorong perusahaan untuk memenuhi pasokan masing-masing.

Target awal adalah memenuhi stok pemerintah setara 90 hari impor bersih, yang dapat diperluas hingga 180 hari termasuk cadangan komersial.

Menyusul laporan tersebut, minyak West Texas Intermediate naik tajam 9,2 persen ke level US$22,18 per barel, harga kontrak berjangka Brent pun melonjak sekitar 12 persen.

Setelah mengalami kuartal terburuknya sejak 2008, bursa saham global berjuang untuk menentukan arah pergerakan ketika banyak perusahaan tampak mengambil langkah untuk memangkas dividen.

Di sisi lain, semakin banyak negara bagian di Amerika Serikat memberlakukan pembatasan ketat pada mobilitas masyarakat di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Angka kematian meningkat di Prancis dan Spanyol, sementara Italia dan Jerman memperpanjang lockdown dan Florida memerintahkan warganya untuk tidak keluar dari rumah masing-masing.

New York dan New Jersey mengatakan jumlah korban jiwa di kedua negara bagian ini telah meningkat berlipat ganda dalam tiga hari terakhir.

“Berita tambahan tentang virus corona dalam 24 hingga 48 jam terakhir mengecewakan,” ujar John Porter, seorang fund manager di Mellon Investments Corp., seperti dilansir dari Bloomberg.

“Ekonomi global telah terpukul, ada sejumlah besar ketidakpastian, dan itu berkontribusi terhadap volatilitas di pasar dan arah penurunan yang telah kita lihat dalam beberapa hari terakhir,” jelasnya.

Di pasar mata uang, nilai tukar rupiah lanjut ditutup melemah 45 poin atau -0,27 persen ke level Rp16.495 per dolar AS, setelah menyentuh posisi 16.450 dengan pelemahan 140 poin pada Rabu (1/4/2020).

Menurut Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh tekanan global yang cukup kuat.

"Tekanan global masih cukup kuat walaupun pemerintah dan Bank Indonesia terus membuat terobosan-terobosan melalui strategi bauran guna untuk menekan melemahnya ekonomi akibat dari pandemi virus corona tersebut," tulisnya dalam siaran pers.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) yakin nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan akan cenderung menguat pada akhir tahun. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan nilai tukar rupiah akan mencapai Rp15.000 pada akhir tahun.

"Bukan hanya stabil, rupiah akan cenderung menguat," ujar Perry. Ia lebih lanjut menegaskan komitmen BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

HMSP

+8,5

TPIA

+9,0

BRPT

+11,4

GGRM

+9,8

Saham-saham penekan IHSG:

Kode

Penurunan (persen)

BBCA

-1,3

BBRI

-2,0

POLL

-6,9

INTP

-2,9

Sumber: BEI

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Gonjang Ganjing Rupiah Indeks BEI
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top