Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Anjlok, Berpotensi ke Bawah Level US$20 per barel

Pada pertengahan perdagangan, harga minyak sempat anjlok ke level US$19,92 per barel dan kembali bergerak di kisaran US$20-an per barel.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 Maret 2020  |  20:22 WIB
Anjungan lepas pantai. - Bloomberg
Anjungan lepas pantai. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah global tampak terus menguji untuk menembus ke bawah level US$20 per barel, level terendahnya dalam 17 tahun terakhir seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap penyebaran virus corona atau COVID-19.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (30/3/2020) hingga pukul 18.26 WIB, harga minyak jenis WTI untuk kontrak Mei 2020 di bursa Nymex bergerak melemah 5,39 persen menjadi ke level US$20,35 per barel.

Pada pertengahan perdagangan, harga minyak sempat anjlok ke level US$19,92 per barel dan kembali bergerak di kisaran US$20-an per barel.

Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk kontrak Mei 2020 di bursa ICE bergerak melemah 8,78 persen menjadi US$22,74 per barel.

Kuartal pertama tahun ini pun diprediksi menjadi kuartal terburuk bagi harga minyak Brent sepanjang sejarah. Sepanjang tahun berjalan 2020, harga minyak telah melemah lebih dari 50 persen.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan bahwa penurunan harga minyak karena memburuknya pandemi COVID-19 dan perang harga antara Arab Saudi dan Rusia yang sampai saat ini tidak kunjung mereda.

“Pasar minyak saat ini mengalami dua guncangan besar yaitu pertama disebabkan pandemi virus corona dan yang kedua perang harga antara Arab Saudi dengan Rusia yang terus membanjiri pasar dengan pasokan tambahan dari mereka,” ujar Faisyal seperti dikutip dari publikasi risetnya, Senin (30/3/2020).

Dia mengatakan bahwa dengan permintaan yang saat ini diperkirakan dapat turun hingga 15juta – 20 juta barel per hari atau 20 persen dari tahun lalu, pasar saat ini mengharapkan adanya pemangkasan produksi yang masif dari negara produsen minyak di luar anggota OPEC.

Analis Goldman Sachs Group Inc. Damien Courvalin mengatakan, kemungkinan harga minyak mentah dunia akan terus jatuh jika angka produksi minyak global tetap tinggi dan jumlah serapan minyak kecil.

Dia menilai hingga akhirnya salah satu produsen minyak dunia berhenti memproduksi, pada saat itulah minyak akan berhenti berada di jalur penurunannya.

Prospek permintaan juga semakin suram dengan lebih banyak negara yang melakukan lockdown (penguncian wilayah) guna mengatasi pandemi virus corona. Sebagian pedagang melihat permintaan minyak mentah akan turun sebanyak 10 juta hingga 20 juta barel per hari.

Bahkan, Goldman Sachs Group Inc. melihat sinyal marabahaya semakin tampak dengan beberapa kilang India menyatakan force majeure terkait impor.

Sementara itu, Bjarne Schieldrop, kepala analis komoditas SEB AB, mengatakan bahwa pelaku pasar dan produsen minyak saat ini sangat terguncang karena apa yang terjadi di pasar minyak belum pernah terjadi sebelumnya.

Kelebihan pasokan yang besar semakin merobohkan struktur pasar minyak, dan mungkin tekanan pasar semakin dalam karena banyak negara dengan cepat kehabisan kapasitas penyimpanan seiring dengan membludaknya pasokan minyak.

“Dunia tidak bisa menyimpan surplus pasokan saat ini, kita kehabisan tempat penyimpanan karena tidak ada yang menyerap pasokan minyak saat ini,” ujar Bjarne seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (30/3/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec Virus Corona
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top