Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Paket Stimulus AS Gagal Buat Harga Minyak Menghangat

Pada perdagangan Kamis (26/3/2020) hingga pukul 08.56 WIB, harga minyak jenis WTI untuk kontrak May 2020 di bursa Nymex melemah 0,9 persen menjadi US$24,27 per barel.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  09:52 WIB
Pantauan udara kondisi area Proyek YY, Laut Utara Karawang. - Istimewa / Pertamina
Pantauan udara kondisi area Proyek YY, Laut Utara Karawang. - Istimewa / Pertamina

Bisnis.com, JAKARTA – Paket stimulus kebijakan senilai US$2 triliun gagal membuat harga minyak dunia menguat seiring dengan industri emas hitam itu masih dibanjiri pasokan.

Bahkan, pasar minyak AS tampak semakin khawatir stok akan kehabisan ruang penyimpanan karena total persediaan minyak Negeri Paman Sam itu terus naik.

Berdasarkan data Energy Information Administration (EIA), persediaan minyak mentah As naik hingga 1,6 juta barel menjadi level tertinggi sejak Juli. Persediaan itu telah meningkat dalam 9 minggu terakhir secara nasional dan selama tiga minggu berturut-turut di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma.

Adapun, pada perdagangan Kamis (26/3/2020) hingga pukul 08.56 WIB, harga minyak jenis WTI untuk kontrak May 2020 di bursa Nymex melemah 0,9 persen menjadi US$24,27 per barel.

Sementara itu, harga minyak jenis Brent untu kontrak May 2020 di bursa ICE terkoreksi 0,11 persen ke level US$27,36 per barel.

Untuk diketahui, Senat AS telah menyetujui paket kebijakan ekonomi senilai US$2 triliun sebagai stimulus ekonomi menanggapi prospek pelemahan akibat penyebaran virus corona atau COVID-19.

Manajer Portofolio di Tortoise Nick Holmes mengatakan bahwa investor minyak saat ini masih bergulat dengan besarnya penurunan permintaan sehingga persediaan semakin menggunung.

Apalagi, situasi terkini dengan semakin banyak negara yang dilockdown untuk menekan penyebaran COVID-19 sehingga jumlah perjalanan pun kian terbatas. India salah satu importir minyak pun memutuskan untuk mengambil langkah lockdown.

“Gabungkan dengan fakta akan semakin banyak pasokan yang masuk ke pasar, itu akan menciptakan dislokasi parah di pasar minyak. Ada banyak ketidakpastian tentang berapa lama permintaan akan tertekan dan hingga tingkat apa,” ujar Nick seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (26/3/2020).

Di sisi lain, Pemerintah AS menekan Arab Saudi untuk membatalkan rencananya membanjiri pasar minyak dengan kenaikan produksinya hingga 12,3 juta barel per hari akibat perang harga dengan Rusia.

Sentimen perang harga Arab Saudi dengan Rusia itu telah membuat harga minyak anjlok cukup dalam. Sepanjang tahun berjalan 2020, harga minyak telah terkoreksi lebih dari 50 persen.

Runtuhnya pasar minyak itu telah membahayakan ratusan ribu pekerjaan, menyapu puluhan miliar dolar dalam belanja modal, dan mengancam akan memaksa sebanyak 70 persen dari pengebor minyak serpih AS mengalami kebangkrutan.

Menteri Luar Negeri Michael Pompeo mendesak Arab Saudi untuk bangkit dan kembali meyakinkan pasar energi dunia di tengah ketidakpastian ekonomi. Michael Pompeo dikabarkan berbicara dengan Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di sela-sela pertemuan G20 untuk membahas dampak ekonomi dari pandemi COVID-19.

Adapun, OPEC mengundang Komisaris otoritas industri minyak dan gas Texas Railroad Ryan Sitton untuk menghadiri pertemuan OPEC pada Juni di Vienna, pertama kali dalam 32 tahun terakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec harga minyak mentah
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top