Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Emas Ikut Terseret Pemerosotan Pasar Global

Kemerosotan yang dialami logam mulia tersebut didorong aksi jual investor untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 Maret 2020  |  14:13 WIB
Emas lantakan. -  Stefan Wermuth / Bloomberg
Emas lantakan. - Stefan Wermuth / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bahkan aset yang dipandang aman seperti emas pun tak kuasa menghindar dari gejolak yang memukul pasar saham global pekan ini.

Harga emas bergerak menuju penurunan mingguan terbesarnya sejak 2013, meskipun mampu naik ke level tertingginya dalam lebih dari tujuh tahun pada awal pekan ini. Kemerosotan yang dialami logam mulia tersebut didorong aksi jual investor untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.

Bursa global secara merata turun tajam di tengah kekhawatiran bahwa paket moneter dan fiskal darurat tidak akan cukup untuk mencegah resesi di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang menghantam ekonomi dunia.

Aksi jual pada pasar saham telah memicu margin call, dengan investor mencari peluang dimana mereka dapat mencairkan uang mereka. Pada saat yang sama, penguatan dolar AS juga telah membatasi daya tarik emas.

"Pada masa-masa penuh tekanan yang ekstrem, emas cenderung tidak memberi manfaat sebanyak yang Anda semua harapkan,” ujar Daniel Hynes, senior commodity strategist di Australia & New Zealand Banking Group Ltd., dilansir dari Bloomberg.

“Emas terlihat sebagai pertaruhan yang cukup bagus untuk jangka menengah. Anda bahkan bisa menyebut rally sebesar 10 persen hingga 15 persen sebagai kemungkinan yang cukup baik dalam jangka pendek,” sambungnya.

Harga emas di pasar spot melorot 1,6 persen ke level US$1.551,50 per troy ounce dan diperdagangkan di level US$1.560,97 pada perdagangan Jumat (13/3/2020) pukul 11.01 pagi waktu Singapura, setelah anjlok 3,6 persen pada perdagangan Kamis (12/3/2020).

Sepanjang pekan ini, harga emas di pasar spot telah melemah sekitar 6,7 persen meskipun menyentuh level US$1.703,39 pada Senin (9/3/2020), level tertinggnya sejak Desember 2012.

Sementara itu, bursa saham Asia tersungkur pada Jumat setelah indeks saham acuan Amerika Serikat S&P 500 mengalami aksi jual satu hari terbesar sejak 1987 dalam sesi penuh gejolak.

Aksi jual di Wall Street pada perdagangan Kamis (12/3) memicu ‘circuit breaker’, ambang batas di mana perdagangan dihentikan untuk penurunan satu hari, untuk kedua kalinya dalam sepekan.

Investor emas selanjutnya akan mengalihkan perhatian mereka pada pertemuan kebijakan Federal Reserve pada 17-18 Maret mendatang, setelah bank sentral AS ini melakukan pemangkasan darurat suku bunga acuan pekan lalu.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Emas Hari Ini bursa saham Virus Corona
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top