Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jadi Pemimpin Pasar, Saham Unilever Indonesia (UNVR) Diunggulkan

Para pemain baru mencoba masuk ke segmen produk kosmetik dan perawatan tubuh. Namun, hal ini dinilai tidak akan menggoyahkan posisi Unilever sebagai pemimpin pasar.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 24 Februari 2020  |  14:30 WIB
Unilever - www.unilever.co.id
Unilever - www.unilever.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) dan anak usahanya PT Phapros Tbk. (PEHA) untuk merambah ke segmen kosmetik dan perawatan tubuh dinilai bakal mendapat tantangan berat dari pemain yang sudah mapan.

Head of Research Samuel Sekuritas, Suria Dharma mengatakan peluang bagi KAEF dan PEHA memang terbuka. Namun, persaingan dengan emiten yang sudah lama menjadi penguasa pasar akan sangat menyulitkan bagi kedua emiten tersebut. 

Suria menuturkan, pilihan untuk merambah produk kosmetik dan perawatan tubuh memang bisa dipahami. Kedua produk tersebut memang memberikan margin yang lebih tinggi ketimbang produksi obat generik yang harganya dibatasi.

“Kalau emiten farmasi seperti Phapros dan Kimia Farma mau menyaingi Kino atau Unilever, peluangnya ada. Tapi kita kan tidak tahu seperti apa [strateginya],” jelasnya kepada Bisnis, Senin (24/2/2020).

Senada dengan Suria, analis senior CSA Research Institute, Reza Priyambada mengatakan pasar kosmetik dan perawatan tubuh relatif sulit dimasuki para pemain baru. Untuk itu, para pemain baru harus bisa memiliki diferensiasi produk yang bisa menandingi kompetitor. 

Consumer goods sudah banyak produk (kosmetik dan perawatan tubuh) keluarannya. Kalau farmasi belum banyak produknya,” tuturnya.

Di sisi lain, analis lebih merekomendasikan saham emiten yang menjadi pemimpin pasar di segmen produk kosmetik dan perawatan tubuh, yaitu PT Unilever Indonesia Tbk. 

Suria mengungkapkan, harga saham emiten Kimia Farma saat ini sudah kemahalan sedangkan Phapros kendati valuasi masih murah, sahamnya kurang likuid di pasaran. Dia pun merekomendasi i Unilever yang memang memiliki pertumbuhan penjualan yang bagus.

“Unilever problemnya rata rata dia sudah market leader naikin volume susah, valuasi sekarang sudah lebih murah. Target price di Rp9.000,” ujarnya.

Sementara itu, Reza menilai saham UNVR tetap menarik dikoleksi meskipun kinerja keuangan tengah melambat. Perlambatan bisa dimaklumi karena beban usaha naik sedangkan daya beli cenderung stagnan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top