Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menanti Gebrakan Otoritas dan Pulihnya Pasar Modal

Pada Jumat (14/2/2020), tepat di Hari Valentine, para pemangku kepentingan pasar modal berkumpul atas undangan Otoritas Jasa Keuangan.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 15 Februari 2020  |  08:28 WIB
Pelajar berada di Main Hall Bursa Efek Indonesia Jakarta. Bisnis - Dedi Gunawan
Pelajar berada di Main Hall Bursa Efek Indonesia Jakarta. Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Sudah 1,5 bulan 2020 berjalan, alih-alih menunjukkan pertumbuhan pasar modal justru menunjukkan pelemahan. Seperti halnya virus corona, alasan utama pelemahan belum diketahui. Begitu pun dengan vaksin untuk menyembuhkannya.

Pada Jumat (14/2/2020), tepat di Hari Valentine, para pemangku kepentingan pasar modal berkumpul atas undangan Otoritas Jasa Keuangan. Direksi broker papan atas, manajer investasi, asosiasi reksa dana dan pelaku investasi serta asosiasi perusahaan efek berkumpul. Tidak lupa juga tentunya, BEI, KPEI dan KSEI.

Agenda utama perkumpulan itu adalah memperbarui atau update isu-isu terkait pasar modal. Pertemuan berlangsung secara tertutup yang berlangsung pukul 15.00 WIB dengan jangka waktu kurang lebih 1,5 jam. Sayangnya, sampai dengan usai tidak ada yang memberikan komentar pasti terkait pertemuan di lantai 17 tersebut.

Ketika turun, Direktur Urama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi mengatakan pertemuan membahas tentang arah pasar modal ke depan. Namun ketika ditanya lebih detil, dia enggan memerincikannya.

“Tadi hanya pertemuan saja, pertemuan dengan pelaku. [Kami menyampaikan] apa yang dikerjakan selama ini oleh regulator lalu kedepannya bagaimana. Pokoknya kita menuju pasar modal yang lebih baik. Detilnya nanti saja,” katanya.

Padahal, bisa jadi, detil tersebut yang kini tengah ditunggu oleh investor supaya pasar kembali bergairah. Sebab sepanjang tahun berjalan, awan mendung terus merundungi pasar modal dengan berbagai hantaman sentimen negatif.

Salah satunya adalah kasus kerugian Jiwasraya dan Asabri yang menggurita kemana-mana. Hal ini bahkan memaksa otoritas bursa membekukan 800 rekening yang diduga terlibat merugikan asuransi pelat merah itu.

Saham-saham lapis kedua dan ketiga yang biasanya menjadi motor perdagangan harian harus hibernasi untuk saat ini. PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk. (PADI) dan PT Pool Advista Indonesia Tbk. (POOL) menjadi emiten yang langsung merosot tajam.

Masing-masing terkoreksi sedalam 81,20 persen dan 67,95 persen ke Rp50. Dengan begitu, keduanya langsung terjatuh dan menambah dereta daftar saham gocapan. Padahal pada tahun lalu, POOL sempat merasakan bertengger di level Rp5.250 sedangkan PADI kokoh di level Rp1.090 per saham.

Dari sisi global, sekalipun sentimen perang dagang antara China dan Amerika Serikat sudah mereda. Virus corona justru menyebar kemana-mana yang membuat pelemahan ekonomi secara sistematis.

Akibatnya, selama tahun berjalan IHSG sudah terkoreksi sedalam 6,87 persen. IHSG pun ditutup melemah 0,09 persen ke level 5.866 dengan frekuensi transaksi sebanyak 361.124 kali dengan nilai Rp6,20 triliun.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Octavianus Budiyanto menyampaikan dari sisi pelaku usaha mengusulkan agar dibentuk sebuah satuan unit khusus atau task force untuk membahas isu-isu penting terkait pasar modal.

“Biar semua jadi satu pintu, mudah dikelola, semua bisa sama-sama kasih berita positif, dan kalau ada sesuatu bisa berbagi informasi kalau misalnya ada kasus,” ungkapnya.

Pelaku, lanjutnya, mengusulkan ada elemen SRO, OJK, asosiasi dan pelaku pasar modal yang berkumpul menjadi satuan unit. Namun, belum ada kepastian tentang ini.

Sementara itu, Direktur Utama Schroders Indonesia Michael Tjoajadi mengatakan 2020 adalah tahun yang menantang bagi pasar modal. Menurutnya untuk bisa membuat pasar bergairah kembali ialah dengan menurunkan suku bunga.

“Tantangan ada dimana-mana, di semua bank sentral. Namun, di setiap tantangan ada kesempatan. Apa sih yang akan kita inginkan soal pertumbuhan kan? Bagaimana caranya yaitu dengan cara turun suku bunga and go grow,” ungkapnya.

Michael mengatakan instrumen investasi paling aman saat ini adalah obligasi karena kupon bunga cenderun turun sedangkan untuk saham cenderung positif pada semester II/2020.

“Banyak tantangan dimana-mana tapi bond saat ini adalah yang paling positif,” katanya.

Dijumpai secara terpisah, Vice President Investment Banking Shinhan Sekuritas Indonesia Bayu Eko Swastono mengatakan pasar modal akan sulit menguat kembali atau rebound. Pasalnya, kasus kerugian Jiwasraya dan Asabri dapat merembet kemana-mana.

“Saya khawatirnya akan ada efek domino ke pasar modal yang menyentuh langsung fundamental utama yang membuat pasar sulit menguat. Efek domino yang saya maksud adalah menyerang pasar saham dan obligasi,” katanya.

Bayu menambahkan sudah ada gejala-gejala tsunami yang akan menghantam pasar modal misalnya saja rontoknya harga saham-saham dan kasus gagal bayar reksa dana.

Pada akhir tahun lalu, OJK telah melayangkan surat imbauan dan mensuspensi reksa dana milik Narada Asset Management karena terbukti gagal bayar serta ke Pratama Capital Asset Management dan MNC Asset Management karena produknya tidak sesuai ketentuan.

Paling keras, OJK meminta PT Minna Padi Aset Manajemen membubarkan 6 produk reksa dana yang menjanjikan imbal hasil pasti.

Perlu diakui, pasar modal saat ini tengah meradang cenderung batuk dan pilek menuju flu. Investor sebagai pasien tengah menunggu resep jitu otoritas kembalikan kestabilan pasar dalam waktu singkat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pasar modal ojk
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top