Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona Sergap Sektor Farmasi, Saatnya Intip Emiten Konsumsi

Samuel Sekuritas menyarakan emiten sektor konsumsi yang memiliki pondasi pasar kuat layak dilirik ke depan.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 09 Februari 2020  |  14:25 WIB
Pekerja farmasi beraktivitas memproduksi obat di pabrik Pfizer Indonesia, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Pekerja farmasi beraktivitas memproduksi obat di pabrik Pfizer Indonesia, Jakarta Timur, Senin (29/4/2019). - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA – Tekanan pada sektor farmasi diyakini akan menguat seiring peran China sebagai pemasok bahan baku utama di Tanah Air.

Head of Research Samuel Sekuritas Suria Dharma menuturkan tekanan kepada sektor farmasi belum akan mereda seiring belum meredanya dampak kasus virus corona. Virus mematikan yang bermula dari pasar hewan di Wuhan, China itu telah mengganggu arus bahan baku internasional karena sejumah negara membatasi perdagangan dan lalu lintas orang dengan negeri Tirai Bambu itu.

"Efek dari virus corona ini memang belum kelihatan mereda. Ada kekhawatiran terhadap gangguan pasokan bahan baku dari China yang banyak menjadi pemasok utama berbagai industri termasuk farmasi," ungkap Suria  kepada Bisnis.com, Minggu (9/2/2020). 

Tekanan kepada industri farmasi ini belum akan terlihar dalam jangka pendek. Pelaku pasar di dalam negeri telah menyiapkan strategi bahan baku yang baik. Emiten juga memiliki kesempatan mengalihkan sumber bahan baku obat ke negara di luar China.

Strategi mengganti pemasok ini akan menambah beban keuangan. Selam ini China dipilih sebagai negara utama pemasok bahan baku obat karena harganya yang relatif murah dibandingkan negara pesaing.

"Walaupun [pasokan bahan baku] di negara lain ada, tapi tetap akan mengganggu [produksi emiten farmasi], mengingat China adalah pemasok utama dan harganya juga lebih murah," terangnya. 

Untuk itu, Suria masih merekomendasikan saham defensif seperti emiten barang-barang konsumsi untuk kondisi volatilitas pasar seperti saat ini. 

"Saya masih merekomendasikan saham yang defensif untuk kondisi seperti sekarang yang produknya bergantung pada pasar domestik seperti INDF dan ICBP," katanya. 

Samuel juga memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level 6000 hingga 6050 pada pekan depan. Sementra harga saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) mencapai level Rp9.500 dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) hingga level Rp13.200. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

farmasi
Editor : Anggara Pernando
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top