Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SBN Ritel Masih Jadi Pilihan?

Pertanyaannya, apakah potensi penurunan kupon akan berdampak pada minat investor untuk membeli instrumen obligasi ritel?
Lorenzo Anugrah Mahardhika & Riendy Astria
Lorenzo Anugrah Mahardhika & Riendy Astria - Bisnis.com 30 Januari 2020  |  14:00 WIB
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Tahun lalu bisa dikatakan tahunnya surat berharga negara ritel Tanah Air. Selain karena ada 10 instrumen yang ditawarkan pemerintah, cemerlangnya pasar obligasi akibat tren penurunan suku bunga acuan juga membuat kupon yang ditawarkan atraktif. Lantas, bagaimana dengan tahun ini? Masihkah menjadi incaran?

Adapun, tahun ini, penerbitan SBN ritel dimulai dengan instrumen saving bonds retail (SBR) seri SBR009. Pada Rabu (29/1), pemerintah melalui Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mengumumkan target pemesanan SBR009 senilai Rp2 triliun. Adapun, kupon yang ditawarkan sekitar 6,3 persen dengan tenor 2 tahun.

Angka tersebut memang lebih tinggi dibandingkan dengan yield surat utang negara tenor 2 tahun yang tercatat 5,61 persen.

Namun demikian, angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kupon yang diberikan pada penerbitan SBN ritel terakhir pada 2019. Sebelumnya, kupon yang diberikan pada instrumen sukuk tabungan seri ST006 yang terbit pada November 2019 sebesar 6,75 persen.

Direktur Surat Utang Negara Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting mengatakan bahwa rendahnya tingkat kupon yang ditawarkan pada SBR009 didasarkan dengan sejumlah pertimbangan.

Salah satunya adalah tingkat suku bunga acuan, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Dia juga memperkirakan kupon yang akan ditawarkan pada lima SBN Ritel yang tersisa berpotensi lebih rendah dibandingkan dengan kupon SBR009. “Bila suku bunga acuan yang ditetapkan Bank Indonesia terus menurun, kami juga akan menyesuaikan dengan menurunkan kupon pada SBN Ritel,” jelasnya saat ditemui di Jakarta, Rabu (29/1).

Kendati demikian, ia mengatakan pihaknya akan terus memonitor perkembangan perekonomian dan sektor keuangan dalam dan luar negeri untuk memastikan kupon yang ditawarkan tetap menarik untuk investor.

Pertanyaannya, apakah potensi penurunan kupon tersebut akan berdampak pada minat investor untuk membeli instrumen obligasi ritel?

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana saat dihubungi pada Rabu (29/1) di Jakarta, mengatakan bahwa target pemesanan Rp2 triliun yang dicanangkan pemerintah dari penerbitan SBN Ritel seri SBR009 berpotensi tercapai. Bahkan, kemungkinan terjadinya oversubscribe cukup tinggi.

“Jika melihat tren SUN beberapa waktu terakhir mungkin bisa hingga 4 kali. Tetapi, proyeksi oversubscribe yang wajar sepertinya sebanyak 2 kali,” katanya.

Menurutnya, penerbitan SBN Ritel pada tahun ini diperkirakan menjadi yang paling marak dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya kendati dibayang-bayangi prediksi penurunan kupon.

IKLIM INVESTASI

Dia menjelaskan, salah satu faktor pendorong tingginya minat terhadap SBN ritel adalah iklim investasi yang kemungkinan semakin kondusif. Hal ini terjadi berkat fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, mulai dari tingkat kemudahan berbisnis, kenaikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, hingga tingkat inflasi yang terjaga.

Hal tersebut juga turut didukung pergerakan IHSG yang tengah melemah. Loyonya IHSG dapat berdampak positif pada SBN Ritel karena perilaku investor yang menghindari risiko (risk averse) dan memburu asset class dengan risiko lebih rendah.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat tipis 0,03 persen ke level 6.113,04 pada penutupan perdagangan Rabu (29/1). Sepanjang Januari, IHSG terkoreksi 2,96 persen.

“Kondisi tersebut juga didukung oleh kebijakan moneter yang kemungkinan akan akomodatif terhadap SBN Ritel serta tingkat kesadaran generasi milenial untuk berinvestasi yang semakin tinggi,” imbuhnya.

Optimisme tersebut juga diungkapkan oleh Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich. Farash mengatakan bahwa permintaan terhadap SBN Ritel sepanjang 2020 diproyeksikan tetap solid.

Hal tersebut didukung oleh terus turunnya bunga deposito yang membuat kehadiran instrumen alternatif semakin dicari.

“Investor ritel memerlukan alternatif [investasi] dengan imbal hasil yang kompetitif. Kehadiran SBN Ritel dapat memenuhi permintaan ini,” katanya.

Dia menuturkan, pelemahan IHSG juga berpotensi meningkatkan permintaan terhadap SBN Ritel. Pada umumnya, SBN Ritel dicari investor dengan karakteristik berhati-hati dan menghindari risiko yang tinggi.

Selain itu, instrumen investasi jenis ini dicari karena imbal hasil (yield) yang lebih pasti dan dapat ditarik untuk kebutuhan jangka menengah. Sementara itu, saham lebih diperuntukkan pada investor jangka panjang yang dapat mentoleransi fluktuasi nilai dalam jangka pendek.

“Bisa jadi ada switching (ke SBN Ritel) meskipun segmen investor pada pasar saham dan SBN Ritel agak berbeda,” lanjutnya.

Sebelumnya, pemerintah optimistis minat masyarakat terhadap SBN Ritel akan tetap tinggi pada tahun ini.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan SBN ritel terbilang lebih aman dibandingkan dengan instrumen lain. Pasalnya, penerbitan SBN ritel dijamin oleh pemerintah melalui undang-undang.

“Risiko gagal bayar (default) juga lebih rendah. Selama penerbitan ini kami juga belum pernah mengalami gagal bayar,” katanya.

Lebih lanjut, instrumen investasi ini juga mudah didapatkan oleh para investor. Adapun, untuk penawaran SBR009, ujar Luky, telah menggunakan sistem online untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang kini lebih mengutamakan kecepatan dan kemudahan.

Loto menambahkan pihaknya akan menyasar generasi milenial sebagai investor utama pada instrumen ini.

Salah satu upaya yang terus dilakukan adalah dengan melakukan sosialisasi terkait dengan SBN ritel melalui berbagai media, mulai dari acara seminar hingga konten-konten dalam media sosial.

Di sisi lain, berdasarkan catatan Bisnis, Kepala Riset Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan instrumen SBN dan SBN ritel semakin menarik pada tahun ini didorong oleh sejumlah sentimen positif yang ada.

Dia menyebut pemerintah masih akan menggantungkan nasib kepada instrumen SBN untuk menutup defisit anggaran. “Dengan demikian SBN menjadi alternatif instrumen yang aman dan imbal hasilnya di atas deposito. Demand untuk SBN akan selalu ada,”

 Sementara itu, pada 2020 pemerintah menjadwalkan enam kali penerbitan instrumen surat berharga negara (SBN) ritel. Frekuensi itu lebih sedikit dibandingkan dengan realisasi pada 2019 yang mencapai 10 kali penerbitan.

Setelah SBR009 ini, penawaran dilanjutkan dengan Sukuk Ritel (SR) seri SR012 pada 24 Februari 2020. Setelah itu, SBR010 akan ditawarkan pada 23 Juni 2020.

Pada semester II/2020, penerbitan akan dibuka oleh Sukuk Tabungan (ST) seri ST007 pada 28 Agustus 2020 dan akan dilanjutkan dengan Obligasi Ritel seri ORI017 pada 1 Oktober 2020 dan ditutup dengan penawaran ST008 pada 26 Oktober 2020.

Jadi, sudahkah Anda memutuskan untuk berinvestasi di SBN ritel tahun ini? Atau memilih instrumen lain?


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi sbn

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor : M. Taufikul Basari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top