Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

January Effect Bisa Dimanfaatkan untuk Realisasi Pertumbuhan

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menuturkan pada dasarnya January Effect didahului asumsi adanya aksi jual di Desember sebelumnya. Namun, di Indonesia biasanya lebih sering terjadi pertumbuhan di Desember.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 30 Januari 2020  |  05:25 WIB
Karyawan beraktivitas di galeri PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (28/1/2020). Bisnis - Triawanda Tirta Aditya
Karyawan beraktivitas di galeri PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (28/1/2020). Bisnis - Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA — Kendati January Effect tahun ini tak mengikuti pola tahun-tahun sebelumnya, bulan Januari masih dapat dimanfaatkan investor untuk realisasi pertumbuhan sejak Desember.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menuturkan pada dasarnya January Effect didahului asumsi adanya aksi jual di Desember sebelumnya. Namun, di Indonesia biasanya lebih sering terjadi pertumbuhan di Desember.

“Sebagaimana akhir tahun lalu,” katanya saat dihubungi Bisnis, Rabu (29/1/2020).

Di samping itu, dia melihat kenaikan harga-harga saham di awal tahun saat ini terhenti karena pengaruh sentimen eksternal, antara lain penyebaran virus korona yang dikhawatirkan investor dapat mengakibatkan fatalitas seperti SARS.

Hal tersebut mengakibatkan penambahan perlambatan bisnis dan ekonomi di China yang berefek domino ke perlambatan di negara lainnya. Termasuk pelemahan Renminbi yang juga mendorong depresiasi negara Asia lainnya.

Meskipun demikian, tren koreksi dipercaya hanya berlangsung sementara karena secara fundamental, bisnis emiten di 2020 dan 2021 diharapkan lebih baik dari 2019. Apalagi dibantu rencana penurunan corporate tax, serta penurunan biaya pendanaan emiten akibat rate cut pada 2019.

“Kemudian secara eksternal didukung meredanya kekhawatiran perang dagang, selesainya rebalancing MSCI emerging markets di 2019 di mana bobot Indonesia turun signifikan dan valuasi relatif tidak mahal dibandingkan negara emerging lainnya,” tambahnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG
Editor : M. Taufikul Basari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top