Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Krakatau Steel (KRAS) Cetak EBITDA Positif

Pada 28 Januari 2020, Erick Thohir dan Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengumumkan berjalannya proses restrukturisasi utang senilai US$2 miliar dengan 10 bank. Erick menekankan restrukturisasi utang harus diikuti oleh perbaikan kinerja operasional ke arah yang tepat.
Ana Noviani & Ria Theresia Situmorang
Ana Noviani & Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 30 Januari 2020  |  11:03 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir (kanan) berbincang dengan Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim (kiri) saat Public Expose Krakatau Steel 2020 di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (28/1/2020). - ANTARA / Indrianto Eko Suwarso
Menteri BUMN Erick Thohir (kanan) berbincang dengan Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim (kiri) saat Public Expose Krakatau Steel 2020 di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (28/1/2020). - ANTARA / Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah restrukturisasi utang senilai US$2 miliar mulai bergulir, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. fokus untuk membenahi kinerja keuangan agar dapat meraup untung pada 2020.

Pada 28 Januari 2020, Erick Thohir dan Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengumumkan berjalannya proses restrukturisasi utang senilai US$2 miliar dengan 10 bank. Erick menekankan restrukturisasi utang harus diikuti oleh perbaikan kinerja operasional ke arah yang tepat.

Saat dihubungi Bisnis, Silmy menuturkan perseroan akan fokus pada performance keuangan pada 2020. Setahun sebelumnya, manajemen KRAS berkonsentrasi untuk merampungkan restrukturisasi utang.

“Sejak Oktober EBITDA [earnings before interest, tax, depreciation, and amortization] sudah positif. Nilainya US$0,3 juta pada Oktober dan US$5,6 juta pada November 2019,” ungkapnya, Rabu (29/1).

Pria yang menahkodai Krakatau Steel sejak akhir 2018 itu mengatakan EBITDA yang berbalik positif didorong oleh efisiensi dan optimalisasi.

Bentuk konkret dari efisiensi yang dilakukan oleh KRAS, yaitu menghentikan operasional fasilitas blast furnace sejak awal Desember 2019. Silmy mengakui operasional fasilitas produksi hot metal yang menelan investasi Rp10 triliun itu terbukti tidak efisien.

Inefisiensi itu, paparnya, terjadi karena ada ketidaksesuaian antara perencanaan awal dengan implementasi operasional. Proyek itu dibangun berdasarkan asumsi harga gas US$4,5 per MMBtu, sedangkan harganya sekarang mencapai US$9 per MMBtu.

Proyek blast furnace KRAS akan disetop sampai ada solusi efisiensi. Selain itu, Silmy juga menutup beberapa pabrik yang dinilai tidak efisien.

RAUP UNTUNG

Silmy menegaskan pada tahun ini pihaknya fokus untuk membalik kondisi keuangan KRAS dari rugi selama 7 tahun berturut-turut menjadi untung. “Kami fokus turn around Krakatau Steel supaya tahun ini untung. Dalam hal itu yang terpenting realistis dalam melihat kondisi di masa lalu,” ujar mantan bos PT Barata Indonesia (Persero) itu.

Di tengah upaya restrukturisasi utang, rugi periode berjalan KRAS pada Januari-September 2019 justru naik signifikan. Ruginya bengkak 466,88% dari US$37,38 juta menjadi US$211,91 juta.

Kinerja EBITDA Krakatau Steel yang berbalik positif tidak serta-merta meningkatkan kemampuan perseroan dalam mencicil utang. Pasalnya, EBITDA digunakan KRAS untuk memperkuat struktur modal.

Menurut Silmy, pembayaran cicilan pokok utang akan bersumber dari hasil divestasi aset yang tidak produktif. Sebelumnya, manajemen KRAS menyebut ada tiga anak usaha yang akan dilego, yakni PT Krakatau Bandar Samudera, PT Krakatau Daya Listrik, PT Krakatau Tirta Industri.

“Kami sedang tahap akhir. Kuartal I/2020 akan final dengan langkah konkretnya. Dieksekusi tahun ini.”.

Bergulirnya proses restrukturisasi utang KRAS direspons positif oleh pelaku pasar. Pada perdagangan Selasa (28/1), KRAS menguat 3,08% ke level Rp268 per saham. Penguatan harga KRAS berlanjut pada perdagangan Rabu (29/1) dengan kenaikan 8,21% ke level Rp290 per saham.

Secara terpisah, analis Samuel Sekuritas Muhammad Alfatih mengatakan sentimen restrukturisasi utang mendorong investor melakukan akumulasi beli KRAS. Kondisi itu berpotensi membuat harga saham BUMN itu lanjut menguat hingga Kamis (30/1).

“Untuk transaksi jangka pendek, support ada di Rp255, sedangkan resisten Rp320, lalu sekitar Rp370,” ungkapnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

krakatau steel

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor : M. Taufikul Basari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top