Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dibayangi Gejolak Libya dan Irak, Harga Minyak Melonjak

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak jenis WTI untuk kontrak Februari 2020 di bursa Nymex bergerak menguat 1,14% menjadi US$59,21 per barel.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 20 Januari 2020  |  15:38 WIB
Pumpjacks terlihat saat matahari terbenam di ladang minyak Daqing di provinsi Heilongjiang, China 22 Agustus 2019. - REUTERS/Stringer
Pumpjacks terlihat saat matahari terbenam di ladang minyak Daqing di provinsi Heilongjiang, China 22 Agustus 2019. - REUTERS/Stringer

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak melonjak karena meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan Afrika Utara yang menyebabkan produksi dan ekspor dari produsen utama OPEC, Irak dan Libya, terhenti.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (20/1/2020) hingga pukul 12.48 WIB, harga minyak jenis WTI untuk kontrak Februari 2020 di bursa Nymex bergerak menguat 1,14% menjadi US$59,21 per barel. Pada pertengahan perdagangan, minyak WTI sempat berada di level US$59,73 per barel.

Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk kontrak Maret 2020 di bursa ICE bergerak menguat 1,26% menjadi US$65,67 per barel. Pada pertengahan perdagangan, harga sempat menyentuh level US$66 per barel.

Pasar minyak kembali dihadapkan oleh sentimen ketidakpastian geopolitik yang mengancam akan menganggu pasokan minyak mentah global.

Di Afrika Utara, konflik berkepanjangan di Libya, di mana dua faksi saingan telah mengklaim hak untuk memerintah negara itu selama lebih dari 5 tahun telah menyebabkan dua pangkalan produksi minyak mentah di Libya ditutup oleh pasukan Khalifa Haftar.

Sebelumnya, pasukan yang dipimpin oleh Khalifa Haftar membekukan aktivitas ekspor di tiga pelabuhan Libya. Hal tersebut pun mendorong perusahaan minyak milik negara National Oil Corp menyatakan force majeure untuk kontrak pengiriman minyak.

Sementara itu, di Irak, produsen minyak mentah terbesar kedua OPEC, untuk sementara menghentikan produksi di salah satu ladang minyaknya pada Minggu (19/1/2020) seiring dengan aksi unjuk rasa yang meluas.

Bahkan, Badan Energi Internasional mengatakan bahwa pasokan dari Irak sangat rentan karena meningkatnya risiko politik di negara itu dan wilayah disekitarnya yang lebih luas.

Kepala Strategi Pasar CMC Markets Sydney Michael McCarthy mengatakan bahwa lonjakan harga minyak merupakan respons rasional terhadap berita memanasnya perang saudara Libya yang mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap ancaman gangguan pasokan.

“Namun, penghentian sementara produksi dari Irak lebih signifikan. Minyak WTI yang bergerak di sekitar US$60 per barel adalah perlawanan yang cukup solid,” ujar Michael seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (20/1/2020).

Seperti yang diketahui, minyak telah mengalami awal yang sulit untuk tahun ini dengan sentimen penggerak utama berasal dari ketegangan geopolitik yang terjadi di wilayah produsen minyak mentah.

Ketegangan geopolitik diawali ketika hubungan antara AS dan Iran memanas setelah terbunuhnya Jenderal Iran Qassem Soleimani. Lalu dilanjutkan oleh konflik Libya dan Irak.

Selain itu, optimisme damai dagang antara AS dan China pun mereda setelah pasar skeptis China mampu untuk memenuhi perjanjian dengan AS. Sepanjang tahun berjalan 2020, harga minyak telah bergerak melemah 3,03%.

Kendati demikian, Ahli Strategi Asia Pasifik AxiTrader Stephen Innes memperingatkan bahwa kenaikan harga kemungkinan akan tetap dibatasi sehingga investor harus berhati-hati.

“Hal itu karena mengingat sifat reaksi pasar cenderung cepat memudar terhadap sentimen risiko geopolitik, sehingga harga berpotensi segera berbalik,” papar Stephen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak komoditas
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top