Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Smelter Ilegal Ditutup, Produksi Aluminium China Turun

Produksi aluminium China untuk setahun penuh 2019 hanya mencapai 35,04 juta ton, turun dari rekor tahun sebelumnya 35,8 juta ton dan menjadi penurunan pertama sejak 2010.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 17 Januari 2020  |  16:57 WIB
Pekerja melakukan pengecoran produk aluminium di pabrik milik Hyamn Group, di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar
Pekerja melakukan pengecoran produk aluminium di pabrik milik Hyamn Group, di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Pabrik peleburan aluminium China tercatat telah memperlambat produksinya pada tahun lalu untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir di tengah kampanye China untuk menutup kapasitas smelter ilegal.

Berdasarkan biro statistik nasional China, produksi aluminium China untuk setahun penuh 2019 hanya mencapai 35,04 juta ton, turun dari rekor tahun sebelumnya 35,8 juta ton dan menjadi penurunan pertama sejak 2010.

Namun demikian, output Desember 2019 China berhasil mencapai 3,04 juta ton atau setara dengan 98.065 ton per hari, menjadi produksi tertinggi ketiga dalam catatan dan naik dari 96.000 ton per hari pada November 2019.

Mengutip Bloomberg, pemerintah China sebagai pemasok setengah pasokan aluminium dunia tengah berupaya untuk menghalangi praktik peleburan ilegal dan mengurangi pabrik peleburan yang usang dalam beberapa tahun terakhir sehingga mempengaruhi jumlah produksi aluminium.

Tidak hanya itu, Pemerintah China juga tengah berkampanye untuk meningkatkan kualitas udara sehingga membatasi aktivitas produksi yang juga berujung mengurangi output aluminium.

Namun, produksi aluminium dapat berubah menjadi lebih tinggi pada tahun ini seiring dengan semakin banyaknya pabrik baru sehingga pasokan diprediksi melebihi pertumbuhan permintaan dan menggeser pasar aluminium domestik menjadi surplus.

Di sisi lain, Alcoa Corp, produsen aluminium AS terbesar, memperkirakan permintaan aluminium global pada 2020 akan naik cukup moderat yaitu sebesar 1,4% hingga 2,4%.

Alcoa melihat adanya kemungkinan pasar aluminium global akan surplus 600.000 ton hingga 1 juta metrik ton pada tahun ini.

“Alcoa meramalkan bahwa output global akan melebihi konsumsi tahun ini, dengan kelebihan pasokan yang dipicu oleh perusahaan-perusahaan di China,” tulis Alcoa dalam laporan terbarunya, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (17/1/2020).

Adapun, berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Kamis (16/1/2020), aluminium untuk kontrak 3 bulanan di bursa London berada di level US$1.812 per ton, menguat 0,61%. Sepanjang tahun berjalan 2020, harga masih berada di zona hijau dengan bergerak naik 0,11%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

aluminium komoditas
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top