Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menelisik Jejak Juragan Arwana di Jiwasraya dan Asabri

Sosok Heru Hidayat saat ini ada di tengah pusaran krisis keuangan yang membelit PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero). Bagaimana jejak keterkaitan antara Heru, Jiwasraya, dan Asabri?
Ana Noviani
Ana Noviani - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  15:11 WIB
Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat mengenakan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di gedung Jampidsus Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (14/1/2020). Heru Hidayat ditahan terkait kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya. - Antara
Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat mengenakan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di gedung Jampidsus Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (14/1/2020). Heru Hidayat ditahan terkait kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Sosok Heru Hidayat saat ini ada di tengah pusaran krisis keuangan yang membelit PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero). Bagaimana jejak keterkaitan antara Heru, Jiwasraya, dan Asabri?

Berdasarkan data Bloomberg, Heru Hidayat memulai karier di sebuah perusahaan ikan arwana yang berbasis di Pontianak sejak 2004. Perusahaan itu adalah PT Inti Kapuas Arowana Tbk.

Sebelumnya, perusahaan tersebut bernama PT Inti Indah Karya Plasindo yang bergerak di bidang usaha plastik. Pada 14 Oktober 2002 perseroan mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham IIKP dan menggalang dana Rp27 miliar.

Pada Maret 2005, perseroan banting setir ke bidang ikan hias, khususnya arwana super red. Nama perusahaan pun berganti menjadi PT Inti Kapuas Arowana Tbk. IIKP kembali berganti nama menjadi PT Inti Agri Resources Tbk. sejak April 2008.

Tercatat, Heru menjabat sebagai direktur di perusahaan berkode saham IIKP itu sejak Desember 2004 hingga April 2005. Heru lantas menduduki kursi komisaris utama sejak 2015 hingga sekarang.

Semua kegiatan penangkaran dilakukan IIKP bersama dengan dua anak perusahaan yaitu PT Inti Kapuas International dan PT Bahari Istana Alkausar.

Hingga akhir 2018, IIKP memiliki total aset Rp298,09 miliar. Total ekuitasnya Rp274,34 miliar dan liabilitasnya Rp23,74 miliar. Di sisi kinerja keuangan, IIKP merugi terus menerus dalam 3 tahun terakhir.

Merujuk data IIKP, dalam periode 2016-2018, raihan pendapatan perseroan berfluktuasi. Pada 2016, nilainya mencapai Rp84,35 miliar, lantas turun menjadi Rp21,41 miliar pada 2017 dan Rp17,8 miliar pada 2018.

Dari situ, perusahaan yang menjual ikan arwana dengan merek dagang Shelook RED itu menelan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp27,41 miliar pada 2016, Rp13 miliar pada 2017, dan Rp15 miliar pada 2018.

Apa keterkaitan IIKP dengan Asabri dan Jiwasraya?

Merujuk data Bloomberg, ada sejumlah transaksi saham IIKP di pasar negosiasi yang melibatkan Heru dan Asabri. Heru sempat melakukan aksi jual beli IIKP sebanyak 548,16 juta saham pada 1 November 2017 dan melepas 536 juta saham pada 3 Oktober 2017.

Transaksi net buy terbesar dilakukan oleh Asabri pada 4 Desember 2017 sebanyak 2,53 miliar saham IIKP di harga penutupan Rp312 per saham.

Sejalan dengan aksi borong saham emiten ikan arwana, Asabri menggenggam 3,88 miliar saham IIKP atau 11,58% per 30 Desember 2019.

Bahkan, kepemilikan saham Asabri di IIKP lebih besar dari PT Maxima Agro Industri yang tercatat sebesar 6,3%. Maxima Agro merupakan anak usaha PT Maxima Integra Investama yang 99,5% sahamnya dikantongi Heru Hidayat.

Saat ini, saham IIKP terkapar di level terendah Rp50 per saham setelah mengalami koreksi 79,17% dalam setahun. Sejalan dengan itu, nilai portofolio Asabri di saham IIKP rontok dari Rp1,06 triliun pada akhir 2018 menjadi Rp194,48 miliar pada 2019.

PENEMPATAN JIWASRAYA 

Lain Asabri, lain pula Jiwasraya. Jejak asuransi pelat merah itu di IIKP tercatat pada 2014. Dalam laporan tahunan 2015, Jiwasraya pernah menggenggam 165 juta saham IIKP pada 2014.

Dengan harga penutupan pasar Rp3.340, nilai portofolio saham IIKP yang dimiliki Jiwasraya pada akhir 2014 mencapai Rp551,1 miliar. Namun, saham IIKP lenyap dari daftar portofolio saham Jiwasraya pada akhir 2015.

Kendati demikian, Jiwasraya dikabarkan tetap mengoleksi saham perusahaan ikan arwana itu secara tidak langsung, yaitu melalui instrumen reksa dana.

Dalam laporan hasil pemeriksaan BPK pada 2016, Jiwasraya terindikasi menanamkan duit di dalam reksa dana yang mengoleksi saham IIKP. Nilai portofolionya disebut-sebut oleh BPK sekitar Rp6 triliun.

Kini, komut perusahaan ikan arwana yang juga Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk. itu ditahan oleh Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Selain itu, Kementerian BUMN pun menuntut Heru membayar utangnya kepada Asabri, meskipun tidak disebutkan berapa besar utang tersebut.

Tentu menjadi tanda tanya besar, apa pesona perusahaan ikan arwana yang mampu 'menyihir' investor institusi sekelas Jiwasraya dan Asabri untuk mengoleksi sahamnya dengan nilai fantastis tersebut? 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asabri jiwasraya aksi emiten
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top