Hujan Hadiah Natal, Pasar Saham Global Serempak Melonjak

Kesepakatan dagang Amerika Serikat-China dan kemenangan Partai Konservatif dalam pemilu Inggris mendorong bursa saham global serempak menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (13/12/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 Desember 2019  |  16:24 WIB
Hujan Hadiah Natal, Pasar Saham Global Serempak Melonjak
New York Stock Exchange difoto dengan tampilan pohon Natal di depannya di Manhattan Borough of New York. - REUTERS/Carlo Allegri

Bisnis.com, JAKARTA – Kesepakatan dagang Amerika Serikat-China dan kemenangan Partai Konservatif dalam pemilu Inggris mendorong bursa saham global serempak menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (13/12/2019).

Suntikan dosis ganda perkembangan terkini itu seakan menyapu sebagian awan hitam yang selama ini menutupi langit pasar keuangan global.

Berdasarkan data Reuters, indeks Stoxx 600 Eropa mengarah menuju kenaikan tajam 1,5 persen pada pembukaan perdagangannya. Di Asia, indeks Nikkei Jepang melonjak 2,5 persen dan indeks saham bluechip Shanghai melonjak 2 persen.

Sementara itu, indeks saham MSCI Asia Pacific selain Jepang naik tajam 1,5 persen ke level tertingginya sejak akhir April 2019.

Seiring dengan terdongkraknya daya tarik aset berisiko akibat meluruhnya ketidakpastian global, minat investor terhadap aset safe haven seperti obligasi dan mata uang yen Jepang terpukul. Kondisi ini juga mendorong pasar untuk mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga di seluruh dunia.

“Investor global menerima dua hadiah terbesar dalam daftar Natal mereka dan akan bersikap apresiatif untuk sementara ini,” ujar Sean Callow, seorang analis valas senior di Westpac, seperti dilansir dari Reuters.

“Indeks saham global seperti MSCI World akan mencatat level lebih tinggi dan nilai tukar pound sterling [terhadap dolar AS] bisa menguat ke level US$1,36,” tambahnya.

Nilai tukar pound sterling mencapai level terkuatnya sejak pertengahan 2018 ketika survei (exit poll) dan kemudian hasil pemungutan suara di Inggris perlahan menunjukkan kejutan kemenangan Partai Konservatif yang dihuni Perdana Menteri Boris Johnson.

Jumlah mayoritas kursi yang cukup besar akan memungkinkan Johnson untuk meloloskan kesepakatan Brexit-nya di Parlemen Inggris pada akhir Januari dan melanjutkan pembicaraan perdagangan dengan Uni Eropa.

Kondisi ini juga dapat mengakhiri kebuntuan soal Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa) selama lebih dari satu tahun di parlemen yang telah menahan investasi dan berkontribusi terhadap perlambatan ekonomi.

Sentimen tersebut menambah gelombang euforia pasar dari perkembangan soal tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China yang telah mengangkat bursa Wall Street mencetak rekor terbaru pada perdagangan Kamis (12/12/2019).

Reuters melaporkan bahwa pemerintah AS telah setuju untuk mengurangi sebagian tarif pada barang-barang China serta menunda rencana pengenaan tarif pada 15 Desember mendatang sebagai bagian dari kesepakatan 'fase satu'.

Sementara itu, China setuju untuk melakukan pembelian produk-produk pertanian senilai US$50 miliar pada tahun 2020, menurut seumber-sumber terkait.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, perang dagang AS vs China

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top