Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Nikel Lemah Tak Berdaya

Nikel di bursa LME pada perdagangan Selasa (3/12/2019) ditutup pada level terendah sejak Juli, di level US$13.375 per ton, melemah 2,48 persen.
Nikel cair dituangkan di Pabrik Metalurgi Nadezhda di perusahaan Norilsk Nickel di kota Arktik, Norilsk./REUTERS-Polina Devitt
Nikel cair dituangkan di Pabrik Metalurgi Nadezhda di perusahaan Norilsk Nickel di kota Arktik, Norilsk./REUTERS-Polina Devitt

Bisnis.com, JAKARTA - Nikel terus mencatatkan kinerja penurunan dan belum menunjukan tanda-tanda untuk berbalik menguat dalam waktu dekat seiring dengan kelebihan pasokan stainless steel di China sehingga mengurangi prospek permintaan.

Logam yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan stainless steel tersebut memperpanjang kerugian dari penutupan terendahnya dalam hampir lima bulan. Nikel di bursa LME pada perdagangan Selasa (3/12/2019) ditutup pada level terendah sejak Juli, di level US$13.375 per ton, melemah 2,48 persen.

Sementara itu, pada perdagangan Rabu (4/12/2019) harga nikel patokan di bursa Shanghai mencapai level terendah dalam lebih dari empat bulan, di level 105,310 yuan per ton melemah 2,76 persen. Penurunan tersebut merupakan pelemahan dalam 7 sesi perdagangan berturut-turut.

Analis Argonaut Securities Helen Lau mengatakan bahwa proses destocking pada produk-produk stainless steel menjelang akhir tahun akan di China, konsumen nikel terbesar dunia, semakin menambah kelebihan pasokan. Harga spot stainless steel China pun telah bergerak turun akibat inventaris yang berada pada rekor tertingginya.

Mengutip Bloomberg, harga plat stainless canai dingin China turun ke 6.850 yuan per ton, terendah sejak Juni 2017.

"Prospek kegiatan hilir nikel tetap suram, yang pada gilirannya akan mendorong harga nikel lebih rendah," ujar Helen seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (4/12/2019).

Penurunan juga terjadi di tengah kekhawatiran bahwa perang perdagangan yang diperluas dan dapat berlangsung lebih lama dapat mengurangi permintaan untuk bahan utama baterai kendaraan listrik.

Setelah mengumumkan ancaman kenaikan tarif baja dan aluminium untuk Argentina dan Brasil serta mengancam bea atas barang-barang Prancis, Presiden AS Donald Trump menyarankan bahwa kesepakatan perdagangan dengan China mungkin akan datang setelah pemilihan presiden AS November 2020.

Belum redanya hubungan dagang dari dua negara dengan ekonomi terbesar dunia tersebut semakin memberikan tekanan terhadap prospek permintaan nikel karena potensi melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

Analis Logam Senior INTL FCStone Natalie Scott-Gray mengatakan bahwa nikel adalah satu-satunya logam dasar di bursa London dengan kenaikan cukup baik tahun ini, tetapi tindakan Presiden AS Donald Trump mengubah sentimen penggerak harga seketika.

"Tindakan ini telah mengubah kisah nikel tentang kekhawatiran pasokan yang meningkat pada kuartal ketiga tahun ini, menjadi lebih sering dikaitkan dengan karakteristik sentimen kelompok logam dasar, dari permintaan yang lemah," katanya.

Sebagai informasi, sepanjang tahun berjalan 2019, nikel telah bergerak menguat 25,12 persen, menjadi kinerja terbaik di antara kelompok logam dasar lainnya. Pada kuartal ketiga tahun ini, nikel menguat tajam dan sempat menyentuh level US$18.850 per ton, level yang tidak dikunjunginya sejak lima tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper