Reksa Dana Saham Belum Mampu Bangkit Tahun Ini

Kinerja indeks reksa dana saham kian merosot mendekati akhir tahun ini diikuti oleh indeks reksa dana campuran. Potensi indeks reksa dana saham kembali ke zona hijau sebelum 2019 berakhir pun tinggal harapan.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 04 Desember 2019  |  00:26 WIB
Reksa Dana Saham Belum Mampu Bangkit Tahun Ini
/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja indeks reksa dana saham kian merosot mendekati akhir tahun ini diikuti oleh indeks reksa dana campuran. Potensi indeks reksa dana saham kembali ke zona hijau sebelum 2019 berakhir pun tinggal harapan.

Di sisi lain, indeks reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang masih bertahan di zona hijau.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 29 November 2019, kinerja indeks reksa dana saham yang tercermin dalam Infovesta Equity Fund Index tercatat sebesar -15,78% sejak awal tahun (year-to-date) atau underperform dari IHSG yang melemah 2,95% ytd.

Bergabung dengan indeks reksa dana saham di zona merah adalah indeks reksa dana campuran yang tercermin dalam Infovesta Balanced Fund Index dengan kinerja -1,11% ytd.

Sementara indeks reksa dana pendapatan tetap yang tercermin dalam Infovesta Fixed Income Fund Index tercatat berkinerja paling tinggi 8,68% ytd. 

Kinerja indeks reksa dana pasar uang yang tercermin dalam Infovesta Morney Market Fund Index tercatat 4,86% ytd.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menjelaskan bahwa kinerja reksa dana saham semakin tertekan akibat adanya penurunan pertumbuhan laba perusahaan pada periode sembilan bulan pertama tahun ini.

“Ditambah faktor eksternal terkait ekspektasi perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia menyebabkan investor menghindari aset saham di negara berkembang,” kata Farash kepada Bisnis, Senin (2/12/2019).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing telah keluar dari pasar saham Tanah Air lewat aksi jual bersih (net sell) sekitar Rp8,54 triliun sejak awal tahun.

Nilai tersebut setelah mengecualikan transaksi skema crossing saham dari MUFG Bank Ltd. dalam rangka meningkatkan kepemilikannya di PT Bank Danamon Indonesia Tbk. dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk. senilai total Rp49,6 triliun.

Sementara itu, lanjut Farash, yield surat utang yang rendah di negara maju serta relaksasi moneter dari beberapa bank sentral utama di dunia menyebabkan aliran modal masuk asing (foreign capital inflow) lebih deras ke pasar obligasi Indonesia.

Ditambah lagi, inflasi domestik yang terkendali serta rupiah yang menguat menjadi daya tarik tersediri bagi pasar obligasi Tanah Air di mata investor asing.

“Rupiah yang tahun ini menguat 2% juga memberi tambahan kenyamanan bagi investor asing untuk berinvestasi di obligasi Indonesia,” tutur Farash.

Hal itu pula yang mendorong kenaikan harga obligasi dan langsung berdampak pada produk reksa dana dengan aset dasar surat utang, seperti reksa dana pendapatan tetap.

Sebelumnya, Head of Investment Research Wawan Hendrayana menyebutkan bahwa tahun ini memang merupakan “tahunnya reksa dana pendapatan tetap”.

Infovesta Utama memperkirakan return indeks reksa dana pendapatan tetap pada akhir 2019 nanti bisa tumbuh dobel digit hingga 11%.

Adapun target tersebut direvisi naik dari yang dipasang pada awal tahun sebesar 8%. Wawan mengungkapkan agresivitas Bank Indonesia memangkas suku bunga di sepanjang tahun ini telah membuat harga surat utang naik terutama yang bertenor panjang.

Sentimen positif yang menyelimuti aset surat utang tersebut pun turut dirasakan oleh reksa dana campuran. Wawan memperkirakan indeks reksa dana campuran bisa parkir pada level 5% pada akhir tahun yang mana penonangnya lebih banyak berasal dari sentimen positif pasar obligasi.

Berikutnya, indeks reksa dana pasar uang diperkirakan stabil pada kisaran 4%—5%. Adapun aset dasar surat utang bertenor di bawah 1 tahun ikut menjadi pendorong kinerja reksa dana pasar uang menjelang akhir tahun ini di saat aset deposito melemah akibat pemangkasan suku bunga.

Di sisi lain, indeks reksa dana saham diperkirakan sulit bergabung di zona positif pada akhir tahun. Kendati diharapkan ada perbaikan kinerja saham dan potensi window dressing pada bulan ini, indeks reksa dana pasar uang ditargetkan hanya bisa membaik ke level -13%.

Mengingat laporan keuangan emiten per kuartal III/2019 yang tak memuaskan, Infovesta Utama juga ikut memangkas target IHSG menuju 6.200—6.300 pada akhir tahun ini dari sebelumnya 6.500.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, reksa dana

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top