Ringkasan Perdagangan 15 November: IHSG dan Rupiah Menguat, Emas Comex Tertekan

IHSG kompak bangkit menguat bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah menjalarnya optimisme seputar kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 November 2019  |  19:49 WIB
Ringkasan Perdagangan 15 November: IHSG dan Rupiah Menguat, Emas Comex Tertekan
Karyawan beraktivitas di dekat papan penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Senin (4/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak bangkit menguat bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah menjalarnya optimisme seputar kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Seiring dengan terdongkraknya sentimen untuk aset-aset berisiko yang mengerek naik mayoritas bursa saham dan nilai tukar mata uang di Asia, daya tarik aset safe haven seperti emas pun memudar.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Jumat (15/11/2019):

IHSG & Rupiah Kompak Bangkit dari Tekanan, Ini Pendorongnya

Indeks mulai rebound dari pelemahannya dengan dibuka naik 0,28 persen atau 16,81 poin di posisi 6.115,76 pada Jumat (15/11) pagi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.092,62 – 6.137,36.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang masing-masing naik 3,81 persen dan 4,88 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG pada akhir perdagangan.

Dilansir dari Bloomberg, bursa saham di Seoul, Tokyo, dan Sydney serempak menguat setelah Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan perundingan mengenai kesepakatan perdagangan 'fase satu' antara AS dan China berjalan menuju tahap akhir.

Dalam suatu kesempatan selepas acara di Dewan Hubungan Luar Negeri pada Kamis (14/11/2019) malam di Washington, Kudlow mengatakan kesepakatan antara kedua belah pihak hampir tercapai meskipun belum tuntas.

Rupiah Ditutup Menghijau Terkerek Sentimen Neraca Pembayaran

Rupiah berhasil menutup pekan ini dengan parkir di zona hijau seiring dengan neraca perdagangan pada Oktober mencatatkan surplus, dan lebih baik daripada perkiraan pasar.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa pergerakan rupiah berhasil berakhir di zona hijau pada pekan ini di tengah ketidakpastian sentimen eksternal yang membuat mata uang Garuda hampir terdepresiasi sepanjang pekan.

“Namun, data trade balance Indonesia Oktober yang positif berhasil membantu rupiah sehingga rupiah berbalik menguat,” ujar Ariston kepada Bisnis, Jumat (15/11/2019).

Rally Harga Karet Cetak Rekor Terpanjang Sejak 2015

Harga karet berjangka di bursa Singapura mencatat kenaikan mingguan keenam berturut-turut dan menjadi rekor kenaikan terpanjang sejak 2015. Penguatan didorong oleh potensi gangguan pasokan yang melebihi kekhawatiran pasar menjadi overbought secara teknis.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (15/11/2019) hingga pukul 16.40 WIB, harga karet untuk kontrak teraktif di bursa Singapura bergerak terdepresiasi 1,51% menjadi US$137 per kilogram. Namun, sepanjang pekan ini, harga kembali mencetak penguatan dengan bergerak naik 0,5%.

Adapun, pada perdagangan Kamis (14/11), harga karet sempat naik ke level tertinggi sejak Juli di level US$140 per kilogram dan telah naik lebih dari 10% sejak awal Oktober 2019.

Permintaan dalam Tekanan, Pasar Harapkan OPEC Lanjutkan Pangkas Produksi

Proyeksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak Bumi atau OPEC terhadap permintaan minyak mentah dunia pada tahun depan memicu harapan pasar bahwa kelompok produsen tersebut tetap melanjutkan pemangkasan produksinya pada tahun depan untuk mendorong harga.

Dalam laporan bulanan OPEC teranyar, kelompok produsen minyak mentah tersebut memperkirakan permintaan minyak mentah pada 2020 jatuh dengan rata-rata sebesar 29,58 juta barel per hari (bph) atau 1,12 juta bph lebih rendah dari 2019.

Oleh karena itu, surplus minyak pada 2020 diperkirakan hanya sekitar 70.000 barel per hari, lebih kecil daripada prediksi dalam laporan sebelumnya.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak Desember 2019 terpantau melemah 8,60 poin atau 0,58 persen ke level US$1.464,80 per troy ounce pukul 17.16 WIB. Pada perdagangan Kamis (14/11), emas mampu berakhir menanjak 0,69 persen di posisi 1.473,40, penguatan hari kedua beruntun.

Dilansir dari Reuters, harga emas tergelincir dari penguatannya akibat terbebani komentar Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow yang menghidupkan kembali harapan kesepakatan dagang AS-China sekaligus mendorong minat investor untuk aset berisiko.

"Komentar dari penasihat ekonomi Gedung Putih menyuntikkan optimisme baru seputar prospek kesepakatan perdagangan,” terang analis pasar FXTM Han Tan.

Jika terjadi dorongan signifikan sentimen untuk aset berisiko, tambah Tan, harga emas dapat menembus di bawah level support US$1.450.

Sebaliknya, di dalam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta naik Rp2.000 menjadi Rp748.000 per gram. Adapun harga pembelian kembali atau buyback emas bertambah Rp3.500 menjadi Rp665.500 per gram.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, Harga Emas Hari Ini

Editor : Sutarno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top