Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Saham Global Rontok Didera Isu AS-China dan Protes Hong Kong

Pasar saham global kompak rontok pada perdagangan sore ini, Senin (11/11/2019), di tengah memanasnya ketegangan sosial politik di Hong Kong dan ketidakpastian soal pembicaraan dagang Amerika Serikat-China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 11 November 2019  |  17:02 WIB
Bursa Efek Paris di distrik bisnis La Defense di Paris, Prancis. - REUTERS/Benoit Tessier
Bursa Efek Paris di distrik bisnis La Defense di Paris, Prancis. - REUTERS/Benoit Tessier

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar saham global kompak rontok pada perdagangan sore ini, Senin (11/11/2019), di tengah memanasnya ketegangan sosial politik di Hong Kong dan ketidakpastian soal pembicaraan dagang Amerika Serikat-China.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Stoxx Europe 600 turun 0,2 persen dan indeks futures S&P 500 melemah 0,3 persen pada pukul 08.10 pagi waktu London (pukul 15.10 WIB).

Pada saat yang sama, indeks Shanghai Composite turun tajam 1,8 persen dan indeks MSCI Emerging Market melorot 1,2 persen.

Dilansir dari Bloomberg, indeks futures AS melemah setelah Presiden Donald Trump mengatakan pada akhir pekan bahwa pemerintah AS belum mencapai kesepakatan dengan China. Trump juga menekankan bahwa ia tidak akan menghilangkan seluruh tarif terhadap China.

Sementara itu di Hong Kong, indeks saham Hang Seng anjlok hampir 3 persen setelah seorang pengunjuk rasa dikabarkan ditembak oleh aparat polisi pada Senin (11/11) pagi.

Pergolakan di Hong Kong mengingatkan para investor akan risiko geopolitik yang masih bertahan saat pembicaraan perdagangan AS-China berlanjut.

Data yang dirilis akhir pekan kemarin menunjukkan indeks harga produsen China turun untuk bulan keempat pada Oktober sehingga meningkatkan kekhawatiran tentang dampak perang dagang terhadap ekonomi terbesar kedua di dunia ini.

Meski demikian, festival belanja tahunan yang digelar Alibaba justru menunjukkan nilai penjualan yang fantastis. Fakta ini membantu investor mengukur seberapa besar keinginan konsumen China untuk berbelanja saat pertumbuhan ekonomi terancam melambat di bawah 6 persen.

“Melihat lebih jauh ke depan pekan ini, kita dapat memperkirakan adanya penurunan lebih lanjut di tengah neraca perdagangan, manufaktur, dan data produksi industri untuk beberapa negara berekonomi terbesar dunia,” ujar Siobhan Redford, seorang ekonom di FirstRand Bank Ltd.

“Jika angka-angka ini mencerminkan semakin memburuknya aktivitas ekonomi, kita bisa memperkirakan pasar akan terus melemah,” tambahnya.

Seiring dengan menyurutnya daya tarik aset-aset berisiko, ketegangan geopolitik berhasil mendongkrak minat investpr untuk aset safe haven. Harga emas menguat 0,3 persen dan nilai tukar yen terapresiasi 0,3 persen ke level 108,98 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa saham hong kong perang dagang AS vs China
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top