BI Rilis Data NPI, IHSG Kikis Koreksi Pada Akhir Sesi I

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu mengikis sebagian koreksinya pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (8/11/2019), pascarilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III/2019.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 08 November 2019  |  11:53 WIB
BI Rilis Data NPI, IHSG Kikis Koreksi Pada Akhir Sesi I
Siluet karyawan di dekat layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (13/6/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu mengikis sebagian koreksinya pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (8/11/2019), pascarilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III/2019.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG turun tipis 0,06 persen atau 3,62 poin ke level 6.162,01 pada akhir sesi I dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (7/11), IHSG mengakhiri pergerakannya di level 6.165,62 dengan pelemahan 0,84 persen atau 51,92 poin.

Sebelum kembali bergerak di zona merah, indeks sempat beringsut ke wilayah positif dengan dibuka naik hanya 0,142 poin di posisi 6.165,77 pada Jumat (8/11) pagi. Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.139,82 – 6.172,54.

Menurut Direktur PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya, potensi penguatan masih terlihat pada pergerakan IHSG hari ini, dalam jangka pendek, menengah maupun panjang.

“Pola uptrend masih terlihat pada pergerakan IHSG, hal ini juga ditunjang beberapa faktor seperti masih tercatatnya inflow secara ytd, masih stabilnya perekonomian, serta kuatnya fundamental perekonomian kita hingga saat ini,” tutur William dalam riset hariannya.

Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III/2019 menunjukkan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia yang tetap terjaga, di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) yang dirilis Jumat (8/11/2019), NPI pada kuartal III/2019 menunjukkan perbaikan dengan mencatat defisit US$46 juta, jauh lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada kuartal sebelumnya sebesar US$2,0 miliar.

"Kondisi tersebut ditopang oleh defisit neraca transaksi berjalan yang membaik serta surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat," tulis BI dalam laporannya.

Sementara itu, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III/2019 dilaporkan membaik didukung oleh menurunnya defisit neraca perdagangan migas di tengah surplus neraca perdagangan nonmigas yang stabil.

Rilis data BI menunjukkan defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III/2019 tercatat sebesar US$7,7 miliar atau 2,7 persen dari PDB, lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada kuartal sebelumnya yang mencapai US$8,2 miliar atau 2,9 persen dari PDB.

"Perbaikan kinerja neraca transaksi berjalan terutama ditopang oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan barang, sejalan dengan menurunnya defisit neraca perdagangan migas di tengah surplus neraca perdagangan nonmigas yang stabil," tulis BI melalui keterangan resminya.

Defisit neraca transaksi berjalan yang membaik juga didukung oleh penurunan defisit neraca pendapatan primer akibat lebih rendahnya repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri.

Berbanding terbalik dengan IHSG, indeks Bisnis-27 berhasil berbalik ke zona hijau dan naik 0,03 persen atau 0,18 poin ke level 540,72. Namun indeks saham syariah Jakarta Islamic Index turun 0,12 persen atau 0,82 poin ke posisi 685,49 pada akhir sesi I.

Indeks saham lain di Asia bergerak cenderung variatif. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang masing-masing naik 0,18 persen dan 0,15 persen.

Di China, dua indeks saham utamanya, Shanghai Composite dan CSI 300 juga naik 0,35 persen dan 0,42 persen masing-masing. Namun, indeks Hang Seng Hong dan Kospi Korea Selatan masing-masing turun 0,44 persen dan 0,30 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top