Pendapatan Agung Podomoro (APLN) Turun 23,2 Persen

Laba bersih yang bisa diatribusikan oleh emiten berkode saham APLN per September 2019 menyusut 78,69% menjadi Rp65,63 miliar.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 07 November 2019  |  18:58 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten properti PT Agung Podomoro Land Tbk. mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 23,20% pada kuartal III/2019.

Berdasarkan prospektus yang diterbitkan oleh perseroan, pendapatan usaha Agung Podomoro pada periode Januari-September 2019 tercatat sebesar Rp2,92 triliun. Realisasi itu turun dari pendapatan usaha periode yang sama tahun lalu Rp3,80 triliun.

Dengan demikian, laba bersih yang bisa diatribusikan oleh emiten berkode saham APLN itu juga ikut menyusut 78,69%. Pada periode ini, perseroan mencetak laba bersih Rp65,63 miliar anjlok dari realisasi tahun lalu Rp308,82 miliar.

APLN mencatatkan margin usaha sebesar 5,1% turun dari realisasi tahun lalu 12,7%. Adapun, laba per saham yang dapat diberikan kepada pemilik entitas induk ialah sebesar Rp3,39 per saham turun dari realisasi tahun lalu Rp15,95 per saham.

Manajemen menuliskan tertekannya pendapatan disebabkan oleh pengakuan penjualan apartemen yang berkurang.

Selain itu, jumlah aset lancar APLN bertambah 16,9% menjadi Rp9,67 triliun dibandingkan dengan jumlah aset lancar akhir 2018 sebesar Rp8,27 triliun. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh adanya reklasifikasi persediaan aset real estat dari aset tidak lancar ke aset lancar akibat pengembangan proyek Buah Batu, Bandung.

Sementara itu, jumlah aset tidak lancar menurun sebesar 7,5% menjadi Rp19,74 triliun dibandingkan dengan akhir tahun lalu sebesar Rp21,30 triliun. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh oleh pelepasan entitas anak PT GPL.

Jumlah liabilitas perseroan pada 30 September 2019 menurun sebesar 5,1% menjadi Rp16,48 triliun dibandingkan dengan jumlah liabilitas pada 31 Desember 2018 sebesar Rp17,37 triliun. Penurunan utamanya disebabkan oleh pelunasan utang sindikasi sebesar Rp1,3 triliun.

APLN juga akan melaksanakan penawaran umum terbatas I untuk penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PHMETD I). Perseroan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 4 miliar dengan nilai nominal Rp100 per saham.

Apabila saham baru yang ditawarkan dalam HMETD I ini tidak seluruhnya diambil atau dibeli oleh pemegang saham atau pemegang bukti HMETD, maka sisanya akan dialokasikan kepada pemegang saham atau pemegang buktiHMETD lainnya yang melakukan pemesanan lebih besar dari haknya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
agung podomoro, kinerja emiten

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top